Kunci

Posted in Coretan on November 21, 2010 by dorfleidenschaft

Saya baru saja mematikan komputer dan menuju tempat tidur ketika tilpon berdering. Melintasi ruang tengah, menuju pesawat tipon, saya lirik jam dinding. Sepuluh lebih lima.

“Pak..Pak..Bisa tolong ke rumah?“, suara panik di sana.

“Istri dan anakku, Pak”

Itu adalah suara Anang. Sahabat karib, teman main, atlet nasional dan dosen olah raga yang lagi mengambil master di sini. Istri dan anaknya barusan datang 3 hari lalu, setelah berpisah setahun lebih. Selain bermaksud kumpul keluarga, ia berencana mengobatkan istrinya. Siapa tahu rumah sakit Jerman bisa membuat istrinya yang juga atlit kembali berlari, atau setidaknya berjalan normal tanpa diseret.

“Sudah satu jam lebih saya di depan pintu. Tilpon dan bel berakali-kali tidak ada jawaban. Padahal sejam lalu dia masih menilpon. Kira-kira ada apa ya, Pak…“.

Terbayang wajah istrinya yang lemah dan seperti selalu mau pingsan. Kecelakaan itu memang cukup fatal. Benturan keras di kepala yang menggeser syaraf servikalis di pangkal otak membuatnya bukan saja susah berjalan, tapi juga cepat lelah. Ditambah masih jetleg, anak yang sangat aktif, rumah lantai 3 tanpa lift, serta seharian sendiri menata perabotan yang baru datang, wajar membuat Anang khawatir.

“Mungkin ia tertidur kecapaian“ kata saya menenangkan.

“Tidak Pak. Dia mudah dibangunkan“

“Kunci satunya dimana?”

“Di dalam semua“

“Tilpon Hausemeister (penjaga rumah, red.), pinjam kunci serepnya. Kita ke rumahnya dengan bus malam. Kalau tidak ada, nyepeda“.

Tilpon ditutup, Anang menghubungi Hausmeister. Saya ingat kemaren dia melakban semua stop kontak, setelah anaknya mencoba memasukkan kunci. Tapi –nah saya ingat– itu lakban tipis dan mudah robek. Jangan-jangan beberapa jam lalu anaknya kembali memasukkan kunci dan berhasil. Lalu kejang oleh listrik rumah los setrum yang juga dipakai menggerakkan kereta api se Jerman itu. Ibunya berusaha menolong dengan menariknya kuat-kuat, lupa kalau tubuh anaknya teraliri listrik.

“Pak, Hausmeister tidak punya kunci serep. Ia sarankan panggil tukang. Biayanya 300 euro! “

Wow. Itu harga netbook Atom baru.

Ia kembali mengetuk. Keras. Ketukan yang nanti mengundang tetangganya, dan menyebabkan kejadian ini makin rumit. Tidak ada respon dari dalam. Sepi. Desah nafas kembali memburu.

“Saya ke rumahmu sekarang“

Di halte Triftweg dekat rumah, saya hubungi teman. 10 menit kemudian saya dan 2 teman sudah di dalam trem menuju rumah Anang.

Jalanan lengang. Aparteman yang kami lewati sudah gelap. Hitam menjulang. Menyisakan beberapa jendela menyala. Berkotak-kotak temaram. Kami duduk diam berhadapan. Tegang. Sibuk oleh bayangan dan pertanyaan masing-masing.

Di luar sana, malam musim semi terasa lebih dingin dan mencekam.

***

Sementara kami dalam perjalanan, Anang berusaha lagi membangunkan istri dan anaknya. Bersahutan antara ketukan pintu, suara bel, dan panggilan kalut. Kegaduhan ini membuahkan hasil. Tetangganya keluar.

“Ada apa?“ tanya lelaki tinggi, muda, berwajah dingin tapi ramah.

Anang menjelaskan apa yang terjadi sekaligus memperkenalkan diri sebagai penghuni baru. Satu tahun di Leipzig, dan 2 tahun sebelumnya di Frankfurt ia lancar bahasa Jerman. Itu belum sertifikat DSH, TOEFL Jerman, dengan skor setara 650 TOEFL miliknya. Saya yang tidak pandai bahasa Jerman hanya bisa merasakan sewaktu ia bertengkar dengan operator seluler. Nein! Nein! Nein! Mirip Hitler di film Quentin Tarantino.

“Tilpon 112. Emergency” saran tetangga.

“Bayar tidak?”

“Tidak. Tetapi kalau ternyata tidak darurat, kamu didenda 1.700 euro”

25 juu-taa ru-pi-aah.

Tetangga baik itu tinggal satu lantai tepat di bawah rumahnya.

“Saya pinjam jendelamu untuk naik ke jendela saya”

“Jangan. Bahaya. Bisa benar-benar datang ambulance nanti” jawaban lucu, tapi saat ini terdengar tragis.

“Kalau begitu tilpon tukang kunci” usul Anang.

Si tetangga menghubungi tukang kunci.

“Dia bilang tidak bisa datang kalau tidak ada perintah polisi“, katanya setelah menelpon.

Walah. Opo meneeh ikuu . Ternyata tukang kunci terhubung polisi. Tidak boleh asal buka pintu Anang karena bisa saja, misal, istrinya sengaja mengunci karena lagi bertengkar, atau sedang dalam proses cerai, atau Anang tidak berhak masuk, atau sebab lain yang harus diputuskan polisi.

“Hubungi polisi“

Si tetangga kembali menilpon.

“Polisi akan datang. Mereka akan memastikan keadaan dan mengambil tindakan selanjutnya“

“Terimakasih banyak“.

Tetangga masuk. Mengunci rapat pintunya. Sadar tidak boleh ada ketika polisi datang, karena bukan urusannya.

Tetapi sebentar kemudian keluar lagi. Kali ini wajahnya berubah misteri.

“Ini tentang uang 1.700 euro itu“ katanya berbisik.

“Aku ajari kamu cara menghindari denda“

Anang berbinar.

“Begitu pintu rumahmu terbuka, usahakan kamu masuk dulu!” Usahakan? Memangnya susah?, pikirnya.

“Temukan istrimu. Suruh dia pura-pura sakit!“

Si tetangga masuk lagi, meninggalkan Anang tertegun dan gelisah.

Polisi datang dengan alat pembuka pintu digital. Anang di belakangnya. Pintu terbuka, ia pun menghambur. Dilihatnya istrinya telungkup di lantai memeluk anaknya. Keduanya membiru. Tangan kanan istrinya menjulur mengarah HP di sudut ruang. Terlihat ia berhasil bergeser sekian jengkal, berusaha keras meraih HP untuk menghubungi suami atau siapapun meminta tolong. Usaha terakhir yang sia-sia.

Raungan sirine membuyarkan lamunannya. Anang mendesah lega.

Ia kemudian lari menuruni anak tangga. Di depan rumah, ia disambut keriuhan yang tidak pernah sedikitpun ia bayangkan apalagi harapkan.

Ia pun lunglai.

***

Paul-Gruner-Straße adalah jalan sepanjang 700 meter yang meliwati tiga blok. Sisi baratnya memotong kawasan pertokoan dan cafe yang sibuk di jalan Karl-Liebnecht-Straße, terus membujur ke timur berhenti di jalan Arthur-Hoffmann-Straße yang dilalui trem nomer 9. Apartemen Anang di ujung Paul-Gruner-Straße, persis di pojok pertemuan jalan, jauh dari kawasan cafe tadi.

Depannya berjajar hunian semi privat berhalaman luas, tempat tinggal orang kaya atau kalau tidak, manula. Jenis yang tidak menyukai kebisingan. Siang hari, jalan berbatu kotak-kotak selebar dua mobil ini lengang. Kalau malam tiba, senyap seperti gang berkabut di film vampir.

Tapi, malam ini istimewa. Gang ini akan menerima kejutan luar biasa yang belum pernah disaksikan penghuninya.

***

Anang tergopoh menuruni tangga, berlari melintasi loby lantai dasar, dan segera membuka pintu. Di luar, kilauan lampu emergency dan raungan sirine bersahutan menyambut.

Polisi, pikirnya.

Namun ia salah besar.

Di bawah silau lampu emergency yang berputar, ia lihat bukan hanya mobil polisi, tapi juga dua unit mobil kebakaran bertangga hidrolik dan satu mobil ambulan. Semuanya melengking dan berkelip atapnya. Parade ribut ini memenuhi jalan.

Penghuni lain membuka jendela. Kepalanya tersembul siluet menyembunyikan mukanya yang heran. Sebagian berdiri di balkon mendongak ke bawah, mengira pesta tradisional “Running of the Bulls” — orang mengejar dan dikejar banteng– di kota Pamplona, Spanyol, pindah depan rumah.

Anang terpaku di bingkai pintu. Sebagai atlit yang bertanding di dalam dan luar negeri, ia biasa disaksikan ribuan pasang mata, di bawah lampu ribuan watt. Tapi saat ini lampu putar emergency dan beberapa mata saja sudah cukup melunakkan tulang-tulangnya. Ia pun tak habis pikir mengapa begitu banyak yang datang. Bukankah tetangganya tadi bilang hanya polisi.

Tiba-tiba dari mobil pemadam berlompatan tubuh-tubuh raksasa berseragam jingga. Di belakang mereka dua petugas 112, yang satu menjinjing alat pacu-jantung. Terakhir barulah sepasang polisi Jerman: Model polisi yang tidak risau kegalakannya dapat mempengaruhi kunjungan turis. Gerombolan ini menuju Anang berdiri.

Herr Anang Kusuma?“ setengah teriak. Polisi.

Ich bin

“Bawa kami ke apartemen Anda“. Efektif. Tegas. Menakutkan. Anang membawa ke atas. Gelisah.

Di depan pintu, tiga raksasa jingga maju dengan alat pembuka kunci. Ingat kiat-hindar-denda dari tetangga, Anang menyelinap ke depan, mengambil ancang-ancang di belakang mereka.

Saya harus masuk duluan, pikirnya. Belum penuh dia berdiri, muncul teguran.

“Kembali ke belakang. Jangan berdiri di situ. Menghalangi kami masuk“

Oo, inilah makanya tetangganya bilang ’usahakan’.

Sementara otaknya mencari cara, bayangan 1700 euro dan anak-istrinya menari-nari. Buah hati selamat tapi bayar 1700, atau ada apa-apa dan tidak bayar? Sungguh pilihan sulit.

Klak!

Pintu terbuka. Raksasa jingga menyingkir.

Anang refleks menyeruak masuk. Melompat gaya PON. Begitu meliwati pintu, matanya menyapu seluruh ruang. Kosong. Tak ada tubuh bergelimpangan. Begitupun di kamar mandi. Jangan-jangan pingsan di kamar. Ia pun melesat ke kamar, seperti menembus tembok.

Dalam temaram lampion, ia dapati anak istrinya tidur…

***

“Bangun, Bunda. Banguun!” gembira dan panik bercampur. Istrinya terperanjat dan spontan berdiri.

“Pura-pura sakit. Cepat…“

Terlambat. Belum selesai ia bicara, empat Jerman sudah keburu masuk.

“Istrimu tidak sakit, seperti kamu bilang” petugas 112 gusar.

“Dia sakit. Bener“

“Itu berdiri“

“Iya tapi sakit. Setahun lalu kecelakaan”

“Se-ta-hun la-lu. Kamu tidak seharusnya panggil 112. Kamu bisa ke dokter sendiri”.

Adduh. Mereka mau bilang ini tidak darurat. Gimana inii.

“Bilang, Bunda. Bilang kalau sakit” katanya mendesis-desis.

Seperti saya, istri Anang mending bicara Inggris daripada Jerman. Sebenarnya dia bisa jelaskan dengan Jerman, tapi huru-hara barusan, menyisakan pendar-pendar di kepala. Maka meluncur Inggris, bahwa ia sakit, kecelakaan, ke sini akan berobat dan sebagainya. Entah kecewa atau malu tidak bisa Inggris, petugas marah.

Memang Polisi sini jarang berbahasa Inggris. Arli, teman yang bergabung di trem tadi, S3 informatika tapi meminati fenomena bahasa, mengomentari kejadian ini. ’Mending polisi kita’, katanya. Polisi sini sering berhubungan dengan orang asing, seharusnya terlatih. Jangankan itu, petugas imigrasi yang jelas urusi orang asing saja jarang berbahasa Inggris.

Di tengah kebingungan istrinya, Anang berdebat soal sakit atau tidak. Akhirnya petugas penjinjing pacu-jantung berkata,

“Kita ke rumah sakit sekarang. Biar sana yang menentukan“.

Anang terkejut, tapi tak ada pilihan. Lantas menyuruh istrinya berkemas.

“Rasya, bagaimana? Kalau malam suka bangun. Belum lagi besok Mas kuliah. Ijinkan ke mereka saya bawa“

“Pasti tidak boleh. Lagian kamu kan ’sakit’“

Saat itu HPnya berdering. Panggilan dari saya.

“Saya, Arli dan Rangga, sebentar lagi sampai Bayrischer-Platz. Bagaimana di situ?“

“Pak, tolong Rangga suruh nyegat Dik Sisca di RS Uniklinikum, bagian notfal aufnahme, UGD“

“Anak-istrimu bagaimana?“

“Saya terlibat masalah besar…“

Malah ‘saya’. Gak nyambung, lagi kemelut.

“Ok. Terus ini ..“ pet. Putus. Karena polisi memanggilnya.

“Paspor dan surat-surat”

Anang menyerahkan map.

“Anda apanya dia?“

“Suami“

“Anda tinggal dimana?”

Loh. Ya di rumah ini. Suami je. Itu Indonesia. Di sini biasa suami-istri tidak serumah, dan bukan suami-istri malah serumah. Aneh memang, tapi begitulah. Lama-lama model begini nanti juga akan sampai Indonesia. Kan daya serap kami tinggi, daya terima budaya Barat juga tinggi, ditambah perilaku niru yang saking totalnya bisa lebih heboh dari aslinya.

“Saya serumah dengan istri”

“Mengapa tidak bisa masuk?”

“Kuncinya ketinggalan“

Polisi menatap lurus mata Anang. Lama, sampai tembus belakang kepala.

“Anda Asyl !?“

Jerman menampung pencari suaka politik dan pengungsi perang. Mereka disebutAsylum, pencari suaka. Sebutan tidak terhormat dan dicurigai.

“Bukan. Saya mahasiswa“

“Mana surat asuransi kalian“ pertanyaan sela Si Penjinjing pacu-jantung.

“Hmm .ehm..Belum jadi”.

“Apa-apaan ini! Bagaimana kalian bisa sampai sinii??“ Polisi berseru. Kesal karena logikanya tidak bisa dipakai sejak awal.

“Maaf Bapak-bapak. Kami datang tiga hari lalu. Tadi siang saya sudah daftar, tinggal tandatangan istri besok.”

Interview selesai.

Mereka membawa Sisca pergi, meninggalkan Anang dan balitanya.

****

Halte Bayrischer-Platz dekat stasiun kereta api pertama dunia yang masih terawat. Kami turun di sana. Rangga, mahasiswa solar-energy semester awal, bergegas ke arah RS Uniklinikum. Saya tilpon Anang tanya bagaimana, ia jawab‘alles klar’(sudah beres), diikuti tawa kecil dan seruan khasnya sambil canda ‘katastrophe…katastrophe..’ (bencana)

‘Ke sini saja, Pak. Tak ceritani’.

Saya dan Arli santai menuju rumah Anang.

Pukul 2 malam, tapi hati saya melihat langit seperti pagi. Warnanya putih keperakan, menebar harum, dan mengganti dingin malam ini dengan hangat. Ada letup-letup syukur dari relung sana.

Terimakasih Ya Allah, terimakasih..

——-

:: CATATAN ::

Observasi laboratorium RS. Uniklinikum menyatakan istri Anang positif sakit. Ditemukan perubahan signifikan struktur syaraf belakangnya. Dokter bilang akan segera mendiskusikan dengan timnya. Rasya terus tidur sampai pagi. Anang kembali ke kampus berkegiatan seperti biasa. Ia merasa mendapatkan pelajaran berharga, berhikmah, dan berjanji akan bawa kunci.

 

Guru

Posted in Coretan on November 21, 2010 by dorfleidenschaft

Pertama kali bertemu Pak Damar atau Pak Pajar (Prof.Dr. Damardjati Supadjar) di penataran P4 Mahasiswa Baru September 1986, saya mengira – terutama karena penampilanya yang tegap dan rapi—beliau indo, blasteran. ’Mirip James Bond, ya’, bisik saya. Teman sebelah mengiyakan. Sebelahnya lagi malah menggambar agen rahasia Inggris bertuliskan Damarjati 007.

Bertahun kemudian keseluruhan diri Pak Damar ternyata lebih mendekati sosok guru atau kyai pesantren, yang karenanya saya cium tangan beliau setiap bersalaman. Selain sikap dan karakternya, nama Damardjati Supadjar juga jauh dari kesan Barat. Berkait namanya, yang kurang lebih bararti penerang yang terang benderang itu, Pak Damar berseloroh ’sepantasnya saya ini Menteri Penerangan’.

September 1987. Usai acara Maulid Nabi di Syuhada, di aula bawah yang pintunya menghadap ke Lembah Code, saya didekati Pak Damar.

“Dik, bisa mengajari anak saya main gitar?“

Langsung saya iyakan. Beberapa hari kemudian saya sudah di rumah Jalan Kaliurang, dan siap privat musik setiap Rabu sore. Sungguh saya gembira karena terbuka kesempatan menimba ilmu dari beliau secara langsung.

Karena itu ketika ditanya tarif kursus, saya jawab ’bertemu Bapak dari Magrib hingga Isya’. Semula Pak Damar menolak, tapi karena saya ngeyel akhirnya beliau sepakat.

Begitulah mula saya mengenalnya. Bukan dari kuliah ataupun seminar, tetapi dari gitar.

***

Tidak banyak yang tahu kalau Pak Damar seorang ningrat. Keputusan ayahnya menepi ke pedalaman Magelang, jauh dari sentrum kekuasaan Keraton, menghilangkan jejak darah birunya. Satu yang tidak bisa dipungkiri adalah laku dan cara hidup prihatin yang menjadi tradisi kesepuhan Jawa dan para ningrat, kentara pada pribadi dan menyebar di keluarganya. Begitu sederhana, santun, dan rendah hati.

“Keningratan seharusnya tidak berkait dengan sikap feodal“, kata beliau suatu senja di beranda rumah.

“Ningrat bukan merujuk kebangsawanan. Tetapi ning, kasunyatan, hakiki, realitas. Dan rat, jagad, semesta“.

Sebagaimana biasa, saya mengangguk-angguk seperti faham, dan baru agak dong, faham, ngeh setelah di atas sepeda motor menuju pulang. O, ningrat itu kesejatian, dan mengasumsikan semacam laku untuk meraihnya. Maknanya lebih merujuk kualitas ketimbang sejenis strata sosial.

Salah satu ningrat yang sering disebut adalah RM. Panji Sosrokartono, kakak kandung RA Kartini. “Lulusan Leiden, menguasai 17 bahasa asing, wartawan perang pertama untuk The New York Herald”. Terbayang di benak saya seorang lelaki Jawa memakai blangkon di antara noni-noni Belanda.

Entah karena Sosrokartono dan sebab penting lain, Pak Damar pun ke Leiden. Kedekatannya dengan keluarga, tidak mudah bagi beliau meninggalkan rumah. Namun karena tugas, dengan berat hati akhirnya pergi.

“Bolehkah saya bersurat, Pak?” tanya saya berharap bisa menghibur.

“Tentu saja. Surat dari tanah air adalah buluh perindu yang ditunggu”.

Duapuluh lima tahun lalu facebook, email dan segala kemudahan komunikasi seperti sekarang belum ada. Bisa dibayangkan betapa berartinya surat. Namun hingga beliau kembali ke tanah air, tidak juga satupun surat saya tulis. Saya menyesal dan malu. Keajekan saya mengupdate kabar dari Bu Damar mungkin menjadi sebab merasa tidak perlu menulis surat. Tapi bagaimanapun saya salah.

Sepulang dari Belanda Pak Damar mulai sibuk. Saya masih bisa menemui tapi tidak seleluasa dulu. Cerita beliau tentang Belanda –ditambah para guru, seperti Prof. Koentowibisono, Prof. Soejadi, Prof. Djuretno, dan Rama Anton Baker yang akrab dengan negeri kincir ini—membuat saya terkesan. Salah satunya adalah kisah ‘putri-kaca’: pramunikmat semi telanjang dalam etalase kaca di gang-gang kawasan red-line district Amsterdam.

Musim panas tahun lalu sewaktu saya ke Belanda, aquarium Pak Damar itu kembali menari di kepala. Sayangnya –atau untungnya—saya bersama anak istri, sehingga terpaksa selamat.

***

Pak Damar dikenal sebagai pembicara dengan cara penyampaian khas, mendalam, dan kaya humor. Dengan rentang tema agama, filsafat, kebatinan, budaya, hankamnas, perkawinan, hingga problem ABG; Diundang di kampus, kantor, masjid, warga, mahasiswa KKN di desa bahkan di gunung-gunung; Tampil di tivi, koran, dan radio, Pak Damar praktis dikenal luas lintas kalangan. Posternya merajalela dimana-mana.

Suatu ketika saya melihat salah satunya di warung makan BonBin Fakultas Sastra. Ada tambahan kata-kata, dengan warna merah besar-besar: ’di-tang-gung SE-RUU!’, dengan huruf E dicoret ganti A, menjadi SARU.

Perempuan menjadi per-empuk-an, metengi atau menutupi jadi menghamili, trilogikata nginthili, tangan sungkeman ditarik setengah lingkaran ke selakangan berubah bentuk jadi saru, dan sebagainya, menjadi ikon Pak Damar. Tak heran bila sebagian orang menyebut ceramah Pak Damar sarat kesaruan. Uniknya, mereka yang tidak biasa, tidak setuju dan protes gaya dan isi ceramah, akan menderita sendiri.

“Bapak melecehkan perempuan“, seru seorang pembicara wanita, penggiat gender, di seminar ’Kuliah Menjelang Perkawinan’ Jamaah Salahudin UGM pertengahan Mei 1997 di gedung UC UGM. Mbak yang baru pertama mendengar Pak Damar ini meletup-letup menegaskan protesnya. Suasana jadi tegang, terlebih bagi saya moderator. Tetapi bukan Pak Damar kalau tidak menjawab begini:

“Wanita itu, telapak kakinya saja surga. Apalagi tumitnya. Apalagi betisnya. Apalagi…” , tidak dilanjutkan, hanya tangannya diangkat tinggi sambil melirik ke atas. Tawa pun pecah. Mbak aktivis terkulai shock.

Sebenarnya Pak Damar hanya saru di mimbar, tetapi tidak ketika berbincang, apalagi berdua. Umumnya, orang di depan bicara bersih, dan ketika turun saru sesaru-sarunya.

Maka kurang tepat mengatakan ceramah Pak Damar hanya saru dan seru. Mestinya ditambahkan satu lagi: siri. Jadi — meminjam trilogikata beliau– Seru-Saru-Siri. Siri maksudnya ada makna tersembunyi di balik saru-seru yang harus kita tangkap. Caranya dengan mengikuti keliaran pikirannya. Jangan terlena di kelucuan dan sarunya, karena itu hanya busur yang direntangkan, dan anak panahnya harus kita lesatkan sendiri.

Ambil contoh pernyataan beliau.

“Lenturnya tulang punggung ahli tahajud memompa sperma dan memuncratkannya, dst…”, terus diikuti ilustrasi erotis tangan beliau yang mengundang tawa.

Kita boleh berhenti di situ atau melanjutkan keliaran itu sampai, misalnya, bertemu teori Kundalini Yoga dan asanas yang terkait dengan performa sujud. Sujud yang betul menjadikan lima titik tubuh membagi beban secara merata, mempengaruhi vitalitas dan ketahanan. Inilah rahasia meditasi berjam-jam. Itu artinya juga sex tahan-lama, semprotan dan kualitas sperma. Bisa juga keliaran kita bawa ke arah bukan sex, ke kualitas sujud misalnya, atau belantara spiritual lain. Apapun itu melatih kita melepas anak panah pikiran, intuisi, dan imajinasi.

Tidak perlu mematok dengan logika atau aturan ilmiah yang lumrah dan pada umumnya, karena pikiran Pak Damar melampaui itu semua. Lompatan metalogis. Rasional-logis-positivistik tidak terlalu relevan lagi. Akal sekedar pengantar, selebihnya intuisi. Seperti kata Einstein hanya derivasi teorilah yang rasional (karena sifatnya aplikatif-operasional), sedangkan grand-theory sendiri, menyeruak secara intuitif.

Maka itu simpul pencerahan berupa teori atau apapun seringkali nampak lucu dan sedikit ganjil. Archimedes loncat dari bak mandi, tanpa pakaian berteriak eureka! adalah contoh. Begitu pun Pak Damar. Penjelasannya sering tidak terduga, melompat dari simpul ke simpul, dan akhirnya menyisakan pendengarnya dua pilihan: tertawa girang atau kelelahan karena tertib ilmiah yang coba mereka paksakan.

Simaklah ‘temuan’nya tentang udheng dan blangkon.

Udheng (selembar kain penutup kepala biasa dipakai pendekar silat -red) , dikenakan orang tua yang sudah mudheng (mengerti)  ukuran kepala, kapasitas dirinya, ilmu hidup”.

Beliau lalu mendemonstrasikan cara memakai udheng. Selembar kain dijepit jari kaki, ujungnya dibentang ke pucuk telinga, ujung satunya dilebarkan ke kiri, dan seterusnya sampai membungkus kepala dengan pas. Sangat metaforis.

“Sedangkan blangkon, dipakai mereka yang belum faham hidupnya, dirinya, ukuran kepalanya. Asal pakai saja, kadang kebesaran kadang kekecilan”.

Hmm..logis, runtut. Namun tiba-tiba,

“Maka itu Udheng dari kata mudheng (faham), dan blangkon dari…blank-on“.

Belum lagi reda riuh tawa, Pak Damar sudah menambahkan “loh, kok jadi Inggris !“

Sekali lagi, kita bebas memilih berhenti pada guyonannya atau melanjutkan pengembaraan.

Pikiran pak damar adalah unity. Semacam paket sinopsis yang bukan mengandalkan urutan logis tapi lebih pada tebaran simpul-simpul. Urutan tidak penting, karena kebenaranya tidak tersusun dari itu. Bebas meloncat ke sana kemari, dari temuan satu ke temuan lain, bahkan ke renungan setengah jadi yang beliau sendiri sedang berproses. Saya menganalogkan dengan Nüße verschiedene Arten, sebungkus snack Jerman yang isinya beragam kacang-kacangan, yang kekhasan citarasanya diperolah tidak dengan cara ambil urut dari almond, kapri, mete, selingan kismis, baru kacang tanah. Tetapi ambil acak, kunyah, biarkan lidah mengirim rasa, nikmati kejutannya, baru menyimpulkan.

“Melihat capung, berhenti pada capung”, katanya dalam sebuah ceramah. “Itulah cara kita melihat. Beda dengan orang Barat. Melihat capung jadilah pesawat capung. Melihat hewan amphibi tercipta tank amphibi”, demikian beliau menginspirasi orang agar berpikir kreatif.

Teman yang terlampau kreatif dan suka bercanda berbisik,

“Pak Damar keliru. Kita pun juga penemu seperti Barat. Melihat bebek jadi Honda bebek. Kijang, jadi Toyota Kijang. Kodok, jadi VW Kodok…“

Jika Pak Damar tidak menyebut teori atau pikiran filsuf Barat, Timur, atau Jawa dengan detail dan panjang lebar, sebenarnya bukan karena tidak menguasi. Kesan saya beliau hanya tidak ingin terjebak menghapal pikiran tokoh, mengait-rumitkan, memakai untuk analisis, atau sekedar mendeskripsikan, yang belum tentu berguna untuk kondisi kita. Pak Damar lebih memilih menjumput sedikit untuk bekal, selanjutnya mengembara, mencari dan menemukan sendiri.

Ambilah contoh Serat Wirid Hidayatjati, salah satu masterpeace Ronggiwarsito yang dikenal cukup pelik ajaran mistiknya itu. Bukan hanya mengerti isinya, Pak Damar menyebut secara akurat tahap emanasi yang menjadi keseluruhan isi serat mulai wisikan ananing Dat, Wedharan wahananing Dat, hingga Sasahidan. Bukan itu saja, bahkan per redaksi “sejatinya ora ana apa-apa, awit duk maksih awung-uwung durung ana sawiji-wiji”, dan seterusnya. Namun hampir tidak pernah Pak Damar mendemontarsikan penguasaan serat itu. Beliau memilih membuat simpul, menjalinnya dengan simpul lain, misal dari fanafillah Al Halaj, ma’rifat Imam Ghazali, dan memadukan dengan puisi Rumi dalam Masnawi, melahirkan orkestra pikiran yang unik dan kaya warna.

Tidak jarang kemudia gaya pikir Pak Damar dikesankan sebagai othak athik gathuk, berpikir coba-coba, santai, asal-asalan, dan bejan-bejan. Tidak serius apalagi ilmiah. Orang jarang menyadari bahwa setiap spekulasi filsofis, dinamika ilmu, inovasi teknologi, spiritnya adalah othak athik gathuk itu. Evolusi tabung elektron menjadi transistor, lalu IC, chip, microchip, menyebabkan radio sebesar baskom mengecil sebiji kuaci, bermula dari othak athik gathuk. Munculnya mainstream pemikiran dan ideologi adalah juga buah karya othak athik gathuk. Dalam konteks inilah saya menyebut gaya pikir Pak Damar original dan khas.

Cara pembawaan beliau yang sederhana dan kharismatik, ditambah gaya tuturnya yang memukau, menjadi magnit bagi banyak orang, utamanya kaum muda. Sebagian bahkan mengajukan diri menjadi cantrik dan memohon Pak Damar membaiatnya. Beliau menolak halus dengan mengatakan:

“seorang murid menjadi murid bukanlah karena diangkat guru. Tapi lebih pada kesanggupan menempa diri untuk belajar pada siapapun bahkan apapun. Murid demikian bukan saja akan menjadi pembelajar abadi yang tak kenal lelah, tapi juga terjaga dari mengkultus, karena guru semesta terlalu beragam untuk dikultus”.

————-ö–

Selamat ulang tahun, Guru.

 

 

Potret

Posted in Coretan on November 19, 2010 by dorfleidenschaft

Sore menjelang musim semi  ini cukup nyaman. Orang-orang biasanya akan  keluar rumah. Lebih-lebih setelah mereka terkurung musim dingin selama hampir empat bulan.

Bersama teman dan anak saya, kami ke luar menikmati senja. Sementara mereke jogging, saya duduk di kursi taman pinggir jalan setapak, menghadap pohon besar yang daunnya rontok. Beberapa orang nampak di seberang jalan, di taman yang sama. Pucuk pohon dengan latar belakang matahari sore dan langit jingga, seperti nenek sihir yang sudah insyaf. Elok dan anggun. Sayang diliwatkan. Saya keluarkan HP berkamera, lalu jepret-jepret sana-sini.

HP sudah hampir saya masukkan saku, ketika melintas dua balita bersepeda. Tersenyum. Yang kecil bahkan sempat berhenti seperti hendak menyapa. Pemandangan khas anak kecil di sini, yang saya rasakan ramah. Tertarik oleh raut Asia saya yang beda dari bapaknya, atau mungkin kerena kesepian akibat dimandirikan ortu sejak usia belasan hari, atau aku saja yang sebagaimana orang Indonesia murah senyum, yang jelas ekspresi alami dan ’sapaan’ dua anak lucu itu – sperti pemandangan di atas—sayang untuk diliwatkan. Apalagi kamera siap jepret. Mak klik! Sayang telat, hanya dapat punggung.

Saat memasukkan HP, jauh di belakang dua anak itu berjalan sepasang ortu. Saya merasa mereka mengamati. Saya kembali duduk santai memandang ke tengah taman. Berharap tidak terjadi apa-apa.
Dua orang itu hampir liwat, ketika tiba-tiba berhenti dan lelakinya bertanya:

“Haben Sie Kinder fotografiert?”

“Maaf, saya tidak berbahasa Jerman. Silakan dalam bahasa Inggris atau bahasa Arab“.

Saya jawab dengan bahasa Jerman patah-patah dan sengaja kutekankan tidak jelasnya supaya dia putus asa. Orang sini biasanya malas melanjutkan bila lawan bicara tidak bisa berbahasa Jerman. Belum lagi kadang memang tidak semangat berbahasa Ingris. Saat itu saya benar-benar berharap dia sangat malas atau tidak bisa bahasa Inggris, lalu pergi. Selesai perkara. Ternyata tidak begitu.

“Anda tadi memotret anak-anak itu?“ Ini suara perempuannya. Keras, mengandung jengkel. Parahnya, dengan bahasa Inggris sangat fasih. Saya tertegun mencari jawab.

“Anda mendengar saya?” Kalimatnya mengingatkan petugas visa Kedubes Jerman di Jakarta. Perempuan tinggi besar berambut merah, tokoh Xena di televisi.

Saya mengangguk tapi susah senyum. Lalu dia ulang lagi pertanyaannya.
“Anda potret anak-anak itu. Mengapa?“ tanyanya.

Mengapa? Ha anak-anak itu liwat, culun, dan ramah menyapa. Seperti pohon dan lapangan, atau pemandangan, mereka ciptaan Tuhan untuk alam seisinya. Lagian saya juga tidak ingin-ingin amat motretnya. Kalau tidak ingin kepotret, ya disimpan saja anaknya. Tentu saya tidak menjawab begitu.

“Saya suka anak-anak”, jawab saya lirih.

“Tapi itu anak saya. Bukan anak Anda”

Yang bilang anak saya itu ya siapa.

“Anda potret untuk apa?”

Untuk apa ya. Seperti motret langit atau itik begitu. Biasa saja, tidak istimewa. Saya faham kemana arah pembicaraan. Ini masalah Privacy. Sesuatu yang tidak begitu penting di negeri saya, dan tidak berkait dengan tinggi rendah peradaban, kecerdasan, atau hal-hal semacam itu. Hanya soal ‘versi’.

Lalu saya katakan,
“Saya salah. Maaf. Saya akan delete fotonya. Lihatlah”
Disaksikan kedua orang tuanya, saya hapus foto anak-anak tadi. Mereka kemudian pergi.

Saya kembali duduk. Kali ini agak gelisah.

Privacy, pikirku. Mereka anggap saya telah mengganggu Privacy, dan karena masih anak-anak, ortu secara naluriah berusaha melindungi. Tetapi mengapa harus mengatakan ’ini bukan anakmu’. Artinya, kamu tidak berhak mengambil kesenangan atasnya.

Sungguhkah saya mengambil kesenangan atasnya? Tidakkah ada penjelasan lain, seperti kepedulian, sapaan karena dia manusia bukan itik atau kancil. Belum lagi, bukankah keberadaan itu berelasi dengan yang lain. Engkau wujud dan hadir di semesta, maka mata dan indra lain serta merta berhak atas keberadaanmu. Eksistensimu menyiratkan relasi yang lain. Naiflah kalau rasa memiliki begitu masifnya mengkoptasi keberadaan.

Bisa jadi sikap mereka bukan lahir dari rasa memiliki, tapi lebih pada rasa khawatir. Mungkin mereka takut keselamatan anaknya terancam. Saya bisa saja motret, lalu merencanakan penculikan, mengiklankan di internet untuk dijual, atau hal buruk lainnya. Atau kalau tidak begitu, mungkin mereka tidak suka karena saya orang asing.
Saya menentramkan diri dengan pikiran lain lubuk lain belalang, lain bangsa lain cara…

Tapi, bagaimanapun saya tetap gelisah. Ketika liwat pasangan muda dengan bayi mungil di keretanya, saya berdiri menghampiri.

“Maaf, bolehkah saya bertanya sesuatu?“
“Silakan” kata mereka ramah.
“Saya barusan memotret anak-anak dan orang tuanya melarang. Mengapa? Demi privacy, keamanan, kesopanan, apa karena saya orang asing?”
“No no, bukan karena orang asing”. Catatan kelam Hitler seringkali membuat orang sini berusaha menebusnya dengan mengajukan keramahan.
“Anda sebaiknya meminta ijin dulu kepada ortunya”
“Untuk apa?” saya ganti bertanya.
“Terlalu banyak yang bisa saya potret, sebanyak saya lihat dan simpan di kepala. Bis kota, trem, tugu, patung Goethe, kastil, menthok, kucing, orang ciuman dekat iklan telanjang, atap bocor, mendung, kabel listrik. Bagitu banyaak. Harus ijin siapa?”

Keduanya tersenyum.

“Kalian yakin sikap itu murni privacy, tanpa sikap lain seperti paranoid?” Sebenarnya saya mengatakan kalian berusaha rasional tapi akhirnya tidak rasional sendiri. ‘Dilema manusia rasional’ kata Max Horkheimer filsof Frankfurt.

“Hmm..Susah menjelaskannya“

“Ok. Itu foto. Sekarang saya tanya soal lain. Kalau membalas sapaan bayi, misal dengan ci-luk-baa. Itu juga harus ijin pemilik?”
“Untuk apa anda lakukan ci-luk-baa itu?” Tanya si ibu.
Iya ya. Mengapa saya katakan ci-luk-ba segala.
Pada saat itu dari dalam kereta bayi anaknya melongok dan tertawa pada saya.
“Naah lihat. Lihat anakmu. Ini kalau saya mau membalas tertawa atau da-daa, perlu menunggu ijinmu?”
Sepontan mereka terpingkal

It is complicated” katanya.

Mereka kemudian berlalu, dan saya kembali duduk.

Matahari senja, langit jingga. Matahari sama yang juga dipunyai langit Indonesia. Tapi manusia yang disinarinya, belahan bumi yang diliwatinya, sungguh tidak sama.

Sepeda (2)

Posted in Coretan with tags , , , , , , , , , , on November 18, 2010 by dorfleidenschaft

Ketiga, [ini sekaligus menjelaskan mengapa mereka ngebut, tidak berjajar dan jagongan] jalan untuk sepeda sudah ditentukan. Warna merah,  lebar kira-kira 2 meter, dan mulus. Berada di bahu jalan utama, track sepeda ini terpisah dari jalur  kursi roda desabled person dan pejalan kaki. Juga punya lampu bang jo sendiri berbentuk  mungil menggemaskan. Karuan saja tidak pernah tabrakan.

Selain itu iktikad mobil, bus, bahkan trem adalah mendahulukan para pengonthel. Suatu ketika saya mengejar lampu hijau,  ngebut di belakang mobil yang akan belok. Perhitungan saya, begitu dia belok jalan di depan saya terbuka,  saya lewat.  Ternyata dia malah berhenti, memberi kesempatan saya untuk lewat lebih dulu.

Begitu pula kalau kita hoby potong jalan, ngebut waton, atau  ugal-ugalan, mereka akan memberikan jalannya. Polisi yang akan menangani. Ditilang. Denda tergantung besar kecilnya kesalahan, berkisar 20-30euro (450ribu rupiah). Nah, itu harga sepeda bekas saya.

Keempat, bentuk sepeda dan pakaian pengendaranya. Mulanya saya tidak begitu ngeh. Tapi kala ke Belanda kemarin baru sadar kalau ini berbeda. Sepeda Jerman (sejauh yang saya lihat di kota ini ) modelnya relatif modern dan kental sentuhan teknologi. Saya tidak tahu apakah istilah ini tepat. Maksud saya bentuknya tidak seperti sepeda Belanda yang familiar di tanah air, yang mribawani, eksotik, dan ngangeni, seperti yang pernah dipunyai almarhum Kakek dan kawan-kawan penggiat sepeda tua di Jogja.

Sepeda Jerman kesan saya canggih, simple, kuat dan sedikit congkak. Kebanyakan seperti sepeda gunung atau sepeda balap. Ada juga sepeda dewasa yang tidak pakai kayuh tapi lentur, mirip mototrail yang dipakai menapaki batu-batu terjal.

Ibu-ibu dan orang tua beda lagi sepedanya. Jenisnya seperti sepeda perempuan dengan rangka utama sebesar lengan orang dewasa, bukan lengkung atau berbentuk jengki, tapi dari setang menurun landai mengikuti bentuk roda depan, lalu mendatar bertemu rangka vertikal tempat sadel, di titik tuas gerigi depan. Dengan begitu ruang antara sadel dan setang terkesan lebar.

Ada pula sepeda untuk orang cacat yang dikayuh pakai tangan. Agak aneh berikutnya adalah sepeda roda empat yang naiknya sambil tiduran. Malah ada jenis yang dinaiki orang tua hampir renta, yang jalannya pakai baterei. Saya tidak tahu yang ini masih sepeda atau bukan.

Saya sungguh awam soal sepeda sehingga tidak bisa mendeskripsikan dan mengklasifikasikan dengan baik. Sepeda saya sendiri entah jenis apa. Kalau jengki, kok sebesar sepeda laki-laki yang dhalangannya melintang itu. Kalau perempuan kok dhalangannya tidak lengkung. Tapi kalau menilik sistem transmisinya yang canggih dan lembut, ini jelas sepeda balap atau gunung. Tapi… kok bentuknya jengki. Kali sepeda wandu, atau entahlah.

Tentang kostum. Meski tidak semua, orang di sini bersepeda dengan pakaian ‘resmi’: helm, kacamata, sarung tangan, kaos dan celana ketat. Pemandangan yang hanya sekali saya saksikan di Amsterdam. Di Jalan Kaliurang kadang saya lihat penyepeda seperti ini. Rupanya atlit DIY lagi melatih tanjakan Kaliurang.

Model pakaian resmi begini juga berlaku untuk para pengendara sepeda motor, yang rata-rata motor besar. Jadi baik yang naik sepeda onthel maupun sepeda motor wujudnya seperti pembalap semua. Sudah begitu naiknya kencang tidak karuan. Sampai saya berpikir mereka ini pejalan jauh, pembalap sedang latihan, atau orang biasa yang keluar untuk bersepeda, keburu kondangan, atau apa. Kalau orang biasa  mau ke kantor atau ke rumah teman, kostum begini jelas gak luwes.

Demikian pengamatan  sepintas saya. Lain kali akan saya sambung dengan style sepeda di Belanda yang beda dengan model Jerman.

Sepeda [1]

Posted in Coretan on November 18, 2010 by dorfleidenschaft

 

Sebelum berangkat ke Jerman saya tidak membayangkan akan bersepeda. Apalagi mengendarainya setiap hari. Saya memilih menggunakan alat transportasi kebanggan Jerman, yaitu trem yang kenyamanan dan keakuratan jadwalnya terkenal handal.

Setelah hampir 8 bulan di sini, rupanya takdir saya lain. Nyatanya 15 menit lalu, saya memasukkan sepeda ke keller (gudang bawah tanah) setelah terpakai 10 KM untuk Jumatan. Ironisnya, bukan hanya seminggu sekali saya lakukan itu, tapi hampir setiap hari. Artinya saya nyepeda terus.

Saya tinggal di Leipzig, dua jam dari Berlin. Kota komponis J.S Bach, filsof W.Leibniz, F.Nietzsche, dan penyair Goethe ini kira-kira sebesar Jogja tapi sesepi Klaten karena hanya berpenduduk 500.000 jiwa. Di kota ini berdiri universitas tertua kedua di Jerman yang Desember nanti merayakan ultah ke 600nya. Juga rumah opera Gewandhaus Orchestra yang pernah disinggahi komponis besar seperti Bethoven, Wagner, Bach dan menjadi baromater musik klasik Eropa hingga sekarang.

Memang tradisi Leipzig kental dengan seni, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ini masih bisa dinikmati lewat bangunan-bangunan kuno yang berarsitektur indah dari Abad Tengah, Renaissance dan Baroque.

Perang memisahkan Jerman menjadi dua belahan. Tapi tradisi Leipzig dan karakter masyarakatnya yang kuat tak tergerus revolusi kebudayaan komunis ala Uni Soviet. Puncaknya 9 Oktober 1989, 70 ribu warga Leipzig turun jalan meneriakkan yel-yel “We Are The People” dan mengawali revolusi damai yang kemudian menyatukan Jerman kembali, yang secara simbolis ditandai dengan robohnya tembok Berlin.

Pasca penyatuan Jerman, pemerintah menargetkan sampai 2010 eks Jerman Timur akan menyamai Jerman Barat secara fisik maupun kualitas hidup. APBN dialirkan dalam sekala besar, wajah kota dibenahi, industri baru didirikan (salah satunya pabrik BMW di sebelah rumah), hingga pertandingan Brasil vs Belanda pada Piala Dunia lalu digelar di sini. Tahun 2009 ini target telah tercapai 80 persen. Konon pemanjaan ini memicu kecemburuan sebagian warga Barat.

Di kota tua yang bangkit dari masa kelamnya ini, saya mulai mengakrabi sepeda..

Awalnya saya ditakjubkan oleh sistem transportasi di sini. Bayerichepltaz saja misalnya, dua halte dari rumah saya, adalah stasiun kereta api pertama Eropa, artinya juga pertama di dunia. Cukup menunjukkan betapa tradisi berlalulintas sudah sangat lama di jalanan sini. Wajar kalau Jerman menjadi tujuan belajar penataan transportasi modern.  Trem dan bus kotanya handal. Lalu lintas mobil –sebagian besar produk Jerman, sebagian lagi buatan Eropa dan sebagian kecil Jepang atau Korea—dan sepeda motor yang rata-rata 750cc ke atas, tertata rapi. Setiap hari, dari dalam trem saya mengamati keteraturan ini. Hingga saya dikejutkan oleh sesuatu yang selama ini terlewat: ternyata banyak orang bersepeda!


Sejak itu saya makin asyik mengamati sepeda, hingga nanti memutuskan beralih menaikinya.

Pertama yang segara tertangkap adalah orang sini bersepeda dengan kencang, bahkan sangat kencang. Dulu saya kira terburu karena mau hujan, telat atau sebab lain, tapi di sini jarang ada hujan lebat yang musti ngebut supaya selamat. Pun jarang orang lari dikejar atau mengejar waktu. Lalu mengapa ngebut? Alasannya saya temukan nanti.

Selain ngebut, menurut ukuran Jawa, mereka juga kurang sopan, misal belok atau nyabrang tidak tengok kanan-kiri. Anehnya belum pernah tabrakan. Saya menduga style nyepeda demikian terkait dengan serba teraturnya lalu lintas di sini, yang dihasilkan oleh sejenis ketaatan tingkat tinggi pada aturan dan tata krama.

Kedua, berbeda dengan model bersepeda orang Belanda yang pernah saya lihat di Leiden dan Amsterdam, orang Jerman tidak bersepeda dengan bergerombol, rombongan, atau berdampingan. Juga tidak berboncengan. Anak-anak memakai sepeda tanpa kayuh dekat ayah mereka, yang lebih kecil lagi masuk kereta sepeda. Sampai bagian famili bersepeda ini saya teringat kawan di masjid. Ali namanya, orang Bukittinggi yang menikahi wanita Jerman. Ali lagi gencar persiapan pulang ke Indonesia dengan istri dan 2 balitanya. Persiapan serius, karena mereka akan bersepeda! Menempuh jarak 11.000km, melewati 14 negara, dengan istri dan 2 anak. Meski tidak juga paham keganjilan jenis apa yang ada di kepalanya, saya diam-diam mengagumi. Ceritanya tentang pulang bersepeda itu selalu saja menggetarkan, mendesir-desir adrenalin dan mengalirkan kegairahan meski berpuluh kali dia ulangi.

Orang jerman bersepeda sendirian, ngebut, dan biasanya sambil memutar musik dengan MP3 player dan sejenisnya. Kalau melihat sisi positifnya mereka efektif dan efisien. Tapi untuk saya yang baru pemula terjun di jalanan Jerman, kurang nyaman dengan ini. Sering kali saya terkaget-kaget disalib, bahkan oleh ibu-ibu dengan anjing di keranjang belakangnya. Padahal perasaan sudah ngebut, presneleng mentok dan ngos-ngosan. Saya biasanya lalu menentramkan diri dengan menyalahkan sepeda bekas saya, atau ke diri saya sendiri yang tidak tahu cara merawat dan tidak biasa bersepeda. Tapi sebenarnya ini juga alasan yang dicari-cari.

Jaket

Posted in Coretan on November 18, 2010 by dorfleidenschaft

Musim dingin kali ini sungguh luar biasa. 2 digit dibawah nol drajat. Salju menumpuk setinggi betis, sejauh mata memandang putih adanya. Banyak yang bilang indah, tapi saya menganggapnya pucat. Sepucat jiwa raga saya yang tersiksa dinginnya.

Awalnya memang indah: bintang putih berjatuhan dari langit, menyentuh muka kita yang tengadah, dan merubah rumput jadi kapas. Tapi karena hawa dingin menyertai selalu — dan seolah hanya untuk menyiksa saya—lama-lama keindahan itu menguap. Setiap meliwati gundukan salju saya minggir karena hampir yakin dari situlah hawa dingin berhembus…

Saya menggigit bibir, getir menahan rindu pada hujan di tanah air. Hujan sejati. Hujan yang menyirami tanah petani, yang mengisi cadangan mata air, atau menjadi banjir lantaran salah urus. Hujan yang benar-benar air, yang asyik oleh selingan halilintar, yang apa adanya sehingga jelas kita mau pakai payung, jas hujan atau ngiyup. Ah, jadi teringat ritual  pengendara motor menjelang hujan. Begitu gerimis, seolah  dikomando mereka menghentikan motornya, berjajar di bahu jalan, membuka jok, lalu mengibaskan jas hujan seperti matador. Itu isyarat pada langit kalau mereka siap dihujani. Tuhan lalu turunkan air melimpah ruah.

Di sini, juga semua Eropa, mana ada yang begitu.
Hujan tidak jelas. Mendung juga tidak terlalu berhubungan dengan hujan. Hanya rintik, itupun tidak  tulus. Malas  dan asal-asalan. Sepi tanpa sentuhan kilat dan petir.  Salju apalagi. Tidak segera jelas mau air apa es krim. Melayang gak karuan, menghambat perjalanan, menyebab kecelakaan, dan mengotori semua. Kadang saya berpikir, mungkin pada jaman dahulu orang sini melakukan kesalahan, lalu dikutuk dingin.

Begitu beratnya musim dingin sampai para manula pun berpesan pada kerabat atau kawannya ‘mudah-mudahan saya bisa meliwati musim dingin kali ini’. Seringkali itu jadi pesan terakhir.

Yaa para manula negeri modern. Drama mereka sering membuat saya terkesiap. Hidup sendirian. Bertebaran dimana-mana. Di taman kota, di jalanan, di warung dan toko-toko. Tinggal di rumah susun atau di panti dengan  manula lain. Berjaket tebal, memakai topi bulu dan topi Om Pasikom. Matanya bercahaya kala ketemu balita, mengira  dirinya. Berjalan dengan tongkat, senti demi senti. Tak mau dibantu juga tak ada yang membantu. Yang memilukan kalau mengejar trem. Terseok, tertatih, bertekad cepat tapi nyatanya lambat. Dan ketika tangan hampir menjangkau pintu, trem berlalu.

Maka berbahagialah wahai manula Indonesia. Kalian ditunggui kerabat dan handai tolan. Tersantuni bagai bayi. Memang adagium mengatakan ‘manusia tua  tidak membutuhkan dunia dan tidak dibutuhkan dunia. Tapi kami putra-putri Indonesia Raya bertekad tidak akan menyendirikan kalian. Kecuali….Ya, kecuali..kalau Indonesia sudah berhasil seperti Barat, sudah maju, sudah moderen, sudah keren, sudah berhasil niru seniru-nirunya  tanpa kritis dan mempertaruhkan apapun. Sampai –maaf tidak semua, tapi umumnya– kalau bisa kawin sama bule tergetarlah jiwa raganya lantaran terpuasi mental terjajahnya.

***

Meski sedingin apapun kalau memang kudu keluar, ya keluarlah. Toh salju sudah bersih sejak dua minggu lalu. Hari ini saya perlu ke Mekong, toko Asia yang seikat kangkungnya berharga 60ribu rupiah itu. Mau beli tempe Belanda yang agak pahit dan 19 ribu sekeping. Sebenarnya ingin juga oseng kacang panjang. Namun segera saya tekan ke bawah sadar, mengingat seuntainya berharga Rp 2.500. Semua bahan makanan Asia adalah harta mewah di Eropa. Bukan karena dikurskan rupiah, tapi memang begitulah adanya.

Saya intip langit dari jendela. Mendung. Halaman berkabut. Pasti dingin ini. Namun menjelang tengah hari, matahari keluar benderang. Teriknya menghujam ke sudut-sudut bumi. Di bawah pohon tinggi tak berdaun, dua manula terlihat bercakap di kursi taman, menikmati matahari. Naluri katulistiw saya mengatakan hangat di luar sana. Lebih hangat dari rumah saya yang berpemanas ini. Saya pun berkemas.

Biasanya saya pakai seragam musim dingin: kaos rangkap tiga, syal, sarung tangan, topi gunung, dan jaket kebesaran (=kegedean) pemberian Profesor Witruk. Jaket yang selalu saya pakai, yang anak-anak saya selalu menjauh lantaran geli dan malu ayahnya berjaket aneh. Warnanya coklat ngejreng,  semi norak ceria. Sekota ini yang punya hanya saya dan seorang nenek renta dari gedung sebelah, yang sering berpapasan saat mengantar kencing anjingnya.

Suatu ketika pernah saya bawa ke tukang permak pakaian untuk dikecilkan. Pikir saya paling bayar 2-4 euro, lebih mahal sedikit dari permak jean Perempatan Mirota Kampus UGM. Ternyata 40euro. Itu hampir separo harga barunya. Daripada menyesal seumur-umur, akhirnya saya jahit sendiri. Pakai setaples.

Siang ini jaket pensiun dulu. Kaospun hanya rangkap dua. Karena yakin kalau di luar sumuk. Akhirnya hanya dengan berbekal topi gunung yang tanpa sengaja terselip di tas pinggang, saya keluar menuju kota. Sementara itu, kejadian ganjil menunggu di luar.

***

Seharusnya ketika membuka pintu apertemen saya sudah tahu kalau di luar sedingin kulkas. Tapi matahari menipu. Terang sinarnya mengesankan kehangatan. Juga lari-lari kecil saya ke halte menaikkan suhu tubuh ikut menyumbang tipuan.

Sampai di halte, trem 6 menit lagi. Saya berdiri berjajar dengan calon penumpang lain. Tiba-tiba saya merasa semua mata memperhatikan saya. Pelan saya amati. Ya Allah, benar! Orang-orang menatap saya heran. Apa yang salah? Aduh kenapa ini?
Oww.. ternyata saya beda: hanya memakai kaos, sementara mereka berjaket brukut.

Mereka bingung orang Asia satu ini kok kuat sekali. Kali dari Korea, Jepang, atau China yang bermusim dingin. Mungkin di sana dia pekerja pabrik es batu.

Belum sadar penuh apa yang terjadi, tiba-tiba kawat berduri menancap punggung, lalu tangan, dada, dan kepala. Ngilu seluruh tubuh. Dari kepala yang mulai pusing saya lihat kaki saya bergerak makin keras, diikuti gemeretak gigi. Dingin yang menjelma jadi kawat berduri itu hampir sepenuhnya menguasai tubuh. Saya tidak lagi bisa berpikir jelas apa reaksi orang-orang menonton si kuat Asia ini nyaris roboh membeku. Saya juga sudah hampir menyelamatkan diri dengan jongkok memeluk lutut, tapi harga diri melarangnya. Saya juga sadar kalau terlihat terlalu kuat malah dikira sombong. Atau mereka makin kasihan –yang lain jengkel– karena tahu saya hanya pura-pura kuat.

6 mnt tepat. Trem datang. Pintu terbuka di depan saya. Menghambur ke dalam, langsung ke tempat duduk paling belakang. Menempel pemanas dan menyelamatkan muka.

30 menit kemudian keadaan terkuasai. Namun saya tidak berniat turun. Mekong sudah lama lewat. Tempe, kangkung, oseng kacang panjang raib semua, tidak menarik sama sekali. Satu-satunya isi kepala adalah bagaimana pulang selamat menembus dingin dengan busana minim. Saya terus berada dalam kereta , dari halte ke halte, muter-muter kota. Ratusan penumpang berganti naik turun. Menyisakan saya dan masinis.

Sore hari menjelang magrib, baru saya pulang, saat istri membalas SMS  “Mas, saya di halte. Jaket kubawa”.

 

Karcis

Posted in Coretan with tags , , , , , , , , on October 28, 2010 by dorfleidenschaft

Pagi buta berkabut. Dingin membeku. Kapas putih berjatuhan menjadi air di dahan dan jalan. Yang lain hinggap di kali, danau, dan jendela rumah mungil yang cerobongnya mengepul. Sekawanan gagak bertengger di pucuk pohon yang meranggas sejak musim gugur. Bertahun-tahun mereka protes, namun salju tetap saja turun. Kota Leipzig memutih dimana-mana.

Kami menutup pintu apartemen, berurutan melintasi halaman, berjaket tebal berpenutup kepala, bunder-bunder seperti segerombolan Suku Eskimo. Angin sepoi yang biasanya semilir di tanah air, berubah jadi pisau dan jarum es, merayapi jaket, menerobos baju berangkap-rangkap, menyentuh kulit, mengiris daging dan tulang, lalu keluar sama perih seperti masuknya. Saya meringis menikmati kejamnya musim dingin negri sub-tropis.

Kami hendak sholat Iedul Adha di Rocherstrasse 33. Seorang Imam Arab membeli tanah cukup luas di tengah kota, sebelah timur Hauptbahnhof (stasiun utama KA), dan membangun masjid di tengahnya. Belakangan orang baik tersebut menambah luas tanahnya hinga terbeli apartemen di situ.

Halte Moritz Hof, 700m dari rumah. Arloji menunjuk pukul 7.30. Siang untuk Jogja, tapi di sini benar-benar pagi. Hanya terpaut satu setengah jam dari Subuh. Kami harus sedikit memacu langkah.

***

Sampai halte kami menuju mesin penjual tiket. Tertatih-tatih menekan tombol kotak sebesar kopor yang tergantung di dinding. Berbahasa Jerman-Inggris, computerize, terkesan rumit dan canggih. Konon awalnya sulit dan akan mudah selanjutnya. Tapi ini kok sudah tidak awal masih juga berlanjut-lanjut sulitnya. Karena usia kali. Maksudku sistem ticketingnya sudah tua, kadaluwarsa kali.

Karena nylimur2 sola usia itu, lha dalaah..mesinnya rusak! Tiap dimasuki uang kertas, muntah. Trem hampir datang, waktu sholat makin memburu, jaraknya jauh lagi. Panik. Tenang, tenang, tarik nafaas.

Eureka! Bisa beli di dalam. Sama sopir. Tang ting tung 2x. Horee. Kemaren pernah, meski salah, kemahalan dan traumatis. Kali ini gak boleh lagi.

Trem pun datang. Ini kereta ajaib. Kendaraan utama kota-kota Jerman. Relnya melintas bersilang sengkurat di jalan raya, menyatu dengan mobil, bis, sepeda, truk. Jumlahnya ratusan ting sliwer seperti gak genah. Berjalan nyaris bertabrakan. Trem2 itu –ha ini hebatnya– juga selalu tepat waktu. Itu terlihat dari papan digital petunjuk kedatangan dan kebrangkatan di tiap halte.

Trem2 ini nyaman dan hangat. Jalannya tidak cepat pun bukan lambat. Meski begitu kita tidak boleh asal keluar ketika dekat tujuan kita. Selain pintunya hanya terbuka di halte, juga kalau kita pating pecotot begitu akan terlihat ganjil, tidak senonoh, dan mempertaruhkan nama bangsa. Sebaiknya kita memang naik-turun di halte.

Di dalamnya ada monitor gantung dan digital-dinding yang menunjukkan kita sampai mana. Mirip kereta Pramex (Prambanan Express). Bedanya tulisanya tidak dipilox di dinding, tapi bisa ganti sesuai halte. Bersihnya menyaingi tempat sholat kantorku. Harum. Bau menyengat? No way. Tapi senyap seperti perpustakaan Abad Tengah, karena penumpangnya membisu, tak bernyawa. Pemandangan khas manusia negeri modern, yang ironisnya, bangsaku habis-habisan menirunya.

”Pak beli tiket”, ku ketuk kaca masinis sambil berbisik.
Dia nyopir di dalam box. Sendirian. Seharian. Kesepian. Kasihan. Mungkin dihukum pak polisi.

”Paak, veli cikkeetszz” bisikku lagi, mendesis-desis.

”Ich jf hks hf jk;lskf gsg sfshfklj jlksjdfks hkhf skh!! Hkh!!”. Blaik nesu. Nesu.
Bahasa Jermannya terdengar begitu. Entahlah sebenarnya. Wangsitku menerjemahkan ’mbok jangan ngganggu to. Aku kan lagi mbut gawe. Sana beli di belakang. Di kotak sana. Iyik saja kowe ki’.

Danke (terima kasih). Entschuldigung (maaf)”, kataku.
Keluar dari segenap rasa salah di negeri orang, diucapkan dengan mbungkuk dan raut muka siap dihukum. Hasilnya, sejumput wajah berbagai rasa: ada takut, ramah, khawatir, bersikeras PD, sekaligus iba.
Untunglah pak masinis tidak lihat. Dia menutup kacanya, masuk kotak lagi, nyopir lagi, sendirian lagi, melanjutkan hukuman.

Benar juga. Di belakang sana ada kotak mesin penjual tiket. Kami menuju mesin itu, terseok-seok heboh melintasi para penumpang yang keheranan.

”Iki rombongan aliens ndi maneeh..”, pikir mereka bingung.
”Yo ben, yo ben”, jawabku lirih untuku sendiri.

Segerombolan Eskimo kembali merubung kotak tiket. Pencet sana sini gak bisa-bisa. Agak lama, sampai yang kecil bilang ’ha ini gak ada ntuk masukkan uang kok Paak’. Ya Allah! Yang tak kira untuk masukkan uang tadi ternyata buat kartu-uang (geldkarte) semacam ATM. Kami belum punya.

Kalau sampai kedapatan petugas (semacam kondektur berpakaian sipil yg naik tiba2 dari sembarang halte) bisa panjang urusannya. Saya teringat teman SGM yang hanya lupa menjeglek karcisnya, didenda 40 euro tanpa ampun. Itu setara enam-ratus-ribu ru-pi-aaaaah…Ha ini berlima, tak berkarcis lagi. Duh Gusti, piye ikii..

***
Kami berdiri berapat-rapatan. Tegang. Mata memandang nanar kemana-mana. Tidak fokus. Mencari jangan-jangan di antara penumpang menyeruak petugas, menghambur ke kami dan teriak ’ihr karte!’ (kertumu ndi hayoo). Tentu aku hampir pingsan. Lalu dengan berpeluh-peluh serta full-ngewel kujelaskan dengan bahasa Tarzan, bahwa kami orang baik, meski sedikit uang tapi berniat beli karcis, tapi mesin di halte mati pak, terus masuk beli ke sopir malah diseneni, terus ke box ini, e lha kok jebulnya gak bisa dengan uang, gilo uange, gilo uangee (ini lo uangnya). Betapa sulit menyampaikan itu dengan isyarat. Itu pun tak akan diterima karena alasannya kuno dan wagu.

”Maaf Sir Siir maaf. Kami orang jauh Siir, dari benua lain, baru tiba di negeri Anda..”

”Dari mana?”
Duh. Martabat bangsa iki.

”Dari mana!!”
Mikir. Ayo mikir, mikiir.

”Ind..Ind…Indmenyuflavesiatralala..”

”Malaysia?!”

”Ya, Sir!”.
Alhamdlillaah slamet. Slamet3x ya Allah.

“Kamu Romli, ya”
“Wie bitte”
“Kamu ROMLI!”
“Bukaan” Sok tahu.
“Romli=Rombongan liar!”

Grek!. Trem berhenti. Lampu merah. Bayangan interogasiku menguap. Ternyata gak ada apa2. Senyap. Orang-orang yang mengira kami dari planet lain tadi juga membisu, sebagian membuang pandangan ke luar. Tak ada yang memperhatikan. Lega. Tapi hanya sebentar.

Pelan namun pasti bayangan petugas kembali muncul. Dan adegan yang kulamunkan tadi bisa benar-benar terjadi.
Ya Allah, tolonglah. Tolonglah, please.
Kami terjebak tanpa karcis.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.