Philosophy of Sound

 

Perspektif material, musikal, dan spiritual

Diskusi Sanggar Eska UIN Sunankalijaga Yogyakarta tanggal 8.3.17

Pernahkah Anda berpikir bahwa sebagai energi suara itu kekal, sehingga ucapan orang yang hidup sebelum Masehi masih ‘melayang’ di atmosfer bumi hingoriginalga hari ini? Tahukah Anda pesawat tempur yang suaranya bisa menghancurkan kaca rumah yang dilewatinya ternyata pilotnya tidak mendengar bunyi mesin pesawatnya? Sadarkah Anda bumi kita yang berputar dengan kecepatan 1.770 km/jam ternyata mengeluarkan bunyi bergemuruh?

Tahukah Anda Ludwig van Beethoven, komponis Jerman pencipta für Elise, ternyata tuli? Atau seorang ibu dapat ‘mendengar’ keluhan anaknya dari jarak ratusan kilometer?

Bagaimana Anda memahami ‘gemercik air, desau angin, dan kicau satwa adalah harmoni orkestra yang dimainkan alam”

Apa yang Anda bayangkan dengan kalimat ‘semua isi semesta bertasbih kepada Allah?’, Allah berkata-kata, berbicara atau berfirman? Nabi Sulaiman mendengar suara semut? Bagaimana pula dengan peristiwa trompet Israfil? Semua itu dalam arti kiasan (metafora) ataukah riil?

Tulisan berikut hendak membahas jenis pertanyaan di atas. Saya mengelompokkannya menjadi 3 kategori pembahasan. Pertama, perspektif material tentang bunyi. Kedua, perspektif musikal, bagaimana bunyi dan suara dipahami dan dipakai dalam konteks musik. Ketiga perspektif spiritual, bagaimana keduanya digunakan dalam terminologi kerohanian, dimensi spiritualitasnya. Namun sebelum itu saya akan menyinggung barang sedikit apa itu filsafat dan dalam pengertian bagaimana ia kita gunakan di sini, supaya persepsi kita sama sehingga  yang saya maksudkan terpahami.

Filsafat, Falsafah, dan Filosofi

Kata falsafah, filsafat, dan filosofi diserap dari bahasa Arab فلسفة dan bahasa Yunani philosophia. Philo artinya cinta, dan sophia berarti wisdom, kebijaksanaan. Filsafat berarti “pencinta kebijaksanaan”. Orangnya disebut filsuf atau failusuf.

Secara terminologi (istilah) filsafat adalah kajian secara radikal, komprehensif, dan esensial atas sesuatu. Atau ilmu yang menelaah obyeknya hingga segi esensi (hakikat), dan bagaimana sikap orang yang mempelajarinya berdasar apa yang ia temukan.

Maka filsafat memiliki beberapa arti, yakni sebagai cara berpikir, ilmu pengetahuan, dan teori. Dalam makalah ini Filsafat Bunyi mengacu pada arti pembahasan secara radikal komprehensif tentang bunyi. Bukan dalam pengertian mencari nilai atau hikmah dari bunyi-bunyian yang dicipta Tuhan dan dihasilkan manusia (musik misalnya).

Perspektif Material

Bunyi adalah bentuk gelombang di alam yang merambat secara perapatan dan peregangan. Bunyi (sound) berbeda dengan suara (voice). Perbedaannya terletak pada sumbernya. Biasanya secara sederhana dikatakan bunyi berasal dari getaran apa pun yang ada di alam semesta, sedangkan suara adalah bunyi yang berasal dari makhluk hidup, seperti hewan dan manusia. “Buk!” anjing dipukul adalah bunyi lolongannya adalah suara.

Bunyi supaya bisa terdengar memerlukan syarat: ada sumber, media, dan pendengar. Media untuk merambatkan gelombangnya bisa berupa udara, air, dan benda.

Bunyi berdasarkan frekuensinya dibedakan menjadi 3 macam yaitu
1. Infrasonik, kurang dari 20 Hz. Seperti peristiwa gempa bumi yang gelombangnya hanya bisa dicatat seismograf dan beberapa hewan.
2. Audiosonik, 20 Hz – 20 kHz, dapat didengar telinga manusiaa.
3.
Ultrasonik, lebih dari 20 kHz. Digunakan dalam radar, sensor. Binatang misal ikan paus, lumba-lumba untuk komunikasi dan kelelawar untuk navigasi.


Bunyi: Materi dan Energi

Alam semesta terdiri dari materi dan energi. Materi bersifat spasio-temporer, parsial, terfragmentasi satu sama lain, sedangkan energi satu, kekal dan terhubung, dan karenanya memiliki potensi kekuatan dahsyat. Bom TNT adalah contoh dunia materi dan bom nuklir contoh dari potensi dunia energi.

Bunyi memiliki sifat materi antara lain merambat, berfrekuensi, bisa dibelokkan, diarahkan, dimodifikasi. Setiap materi memiliki Massa. Meskipun massa secara indra tidak bisa dikenali dan didefinisikan dengan lengkap, tetapi ia bukan saja tak tidak bisa dimusnahkan (Hukum Kekelan Massa) tetapi juga bisa menghasilkan energi yang uar biasa dahsyat (Hukum E=Mc2 Einstein). Hal ini berarti suara manusia di bumi akan abadi terekam di semesta. Dan bunyi sebagai materi memiliki energi potensial sebesar massanya dikali kecepatan cahaya. Prinsip inilah yang bekerja pada (hanya) 0,7 kg uranium namun meluluhlantakkan Nagasaki. Bagaimana dengan bunyi trompet Israfil?


Perspektif Musikal

Konsep musik dikenalkan pertama kali oleh al Kindi (800 M-877 M), filsuf, musikolog,  yang menciptakan ud, sejenis alat musik berdawai yang menjadi cikal bakal gitar. Dilanjutkan oleh al Farabi (870 M-950 M) yang menjadikan musik sebagai terapi. Filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer (1788-1860), bahkan menempatkan musik sebagai salah satu jalan manusia keluar dari dunia yang penuh penderitaan, dimana manusia hanya memiliki dua jalan estetis (seni) dan etis (perbuatan baik).

Mungkin lebih tepat mengatakan perspektif mental atau sensasi dari bunyi. Namun saya memilih terminologi musikal supaya lebih spesifik pembahasannya, di samping juga menimbang musik sebagai bagian dari wilayah mental dan sensasi, untuk mengatakan bukan ranah material bunyi.

Musik adalah bunyi dan suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung nada, lagu, dan harmoni. Bebunyian ini dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau kumpulan dan disajikan sebagai musik. Selain dikenali melalui pendengaran (dan mungkin juga intuisi) musik tidak berwujud sama sekali. Istilah pertunjukan musik sebenarnya atraksi orang memainkan alat musik, bukan wujud musiknya. Sensasi musik terbentuk oleh getaran atau frekuensi nada yang diterima oleh indra pendengaran dan direkonstruksi menjadi kesan atau sensasi individu pendengar. Pada tahap inilah musik bisa menjadi sekedar tumpukan sensasi audio biasa di kepala, menjadi pengiring patah hati, atau bisa pula berdimensi batin spiritual yang amat kaya. Tergantung ‘modal intelegensia’ yang dimiliki pendengarnya.

Mirip dengan musik adalah lagu. Saya kurang tahu keduanya beda atau sama. Yang jelas keduanya harus memenuhi ketiga unsur ritmis, melodi, dan harmoni.


Perspektif Spiritual

Pada dimensi spiritual segala hal bermakna keindahan. Kejadian pilu, kegagalan, nestapa, hal-hal yang oleh umumnya orang dipandang derita menemukan makna keindahannya dalam dimensi spiritual. Dikatakan semua yang dicipta Tuhan adalah sempurna, useful, dan indah. Mengikuti tahapan logika-etika-estetika keindahan menjadi term terakhir dan tertinggi dari semua realitas. Termasuk dalam hal ini bunyi. Perspektif spiritual menempatkan keindahan bunyi bukan saja pada yang teratur getaran frekuensinya (nada) sebagai yang indah, tetapi meliputi semua bunyi di alam. Tidak relevan lagi pada tahapan ini mengukur keindahan pada enak tidaknya bunyi nada, dan harmoni tidak lagi muncul dari keteraturan yang ditetapkan oleh nalar logis kita baik material maupun musikal.

Dalam konteks spiritual inilah bebunyian di alam adalah sebuah orkestra  dan semua makhluk bertasbih kepada Tuhan adalah nyata adanya bukan kiasan atau metafor.

Rekayasa Spiritual

Rekayasa spiritual atau Spiritual Engineering mengacu pada usaha manipulatif menciptakan keadaan batin mirip kondisi ketenangan yang dicapai oleh spiritualis (sufi, zuhud, ahli zikir, pribadi-pribadi saleh) dengan bantuan alat. Caranya pertama dengan menginventaris berapa getaran gelombang orang yang mengalami ekstasi, ketenangan jiwa bahkan pencerahan (aufklaarung) batin, kemudian menyamakan gelombang pikiran orang yang bersangkutan dengan gelombang orang yang ekstasi tadi dengan bantuan alat (biasanya audio-visual). Cara demikian sepintas sudah mencapai tujuan, orang jadi tenang, lembut, namun pada dasarnya semu, artifisial, bersifat sementara dan yang lebih berbahaya meningkatkan dosis ketagihannya yang berujung pada resistensi dan putus asa.

Apa Manfaat yang bisa kita peroleh?
Mari kita diskusikan.