Pohon, Burung, dan Televisi

Awalnya

Di antara puluhan pohon nangka sekitar rumah, ada satu yang tak berbuah. Ayah menyuruh saya  memanjat, memukulinya, sambil berteriak minta berbuah. Agaknya itu kepercayaan Jawa. Maka Ayah yang bukan Jawa menyuruh saya melakukannya dengan geli. Saya –sebagaimana umumnya anak kecil di seluruh dunia yang dilarang memanjat pohon karena mengkhawatirkan orang tua– dengan girang menerima perintah ini.

Beberapa bulan  atau mungkin minggu, saya lupa, pohon itu berbuah! Saya anggap kebetulan dan terus berusaha tidak heran. Namun semakin dewasa, semakin banyak cerita seperti itu, bahwa pohon dan tetumbuhan berinteraksi dengan manusia. Dalam The Celestine Prophecy, James Redfield menarasikan dengan bagus komunikasi ini.  Bukan hanya pohon, semua ciptaan Tuhan berkomunikasi, berinteraksi, dan bereaksi dengan kita. Mereka bertasbih kepada Allah, kata Quran. King Salomon berbicara pada semut, gunung mengaku tidak kuat memikul amanat, Mbah Marijan atas Gunung Merapi, dan banyak lagi. Semua nyata, logis, masuk akal. Bukan klenik dan gaib.

Bencana alam akibat ulah manusia adalah kalimat lain dari alam merespon perilaku manusia. Berbagai penyakit baru adalah jawaban atas hardikan, bentakan, main kasar manusia terhadapnya. Flu burung contohnya, adalah reaksi atas perlakuan egois kita mengurung mereka demi memuaskan kuping dan mata. Binatang yang fitrahnya terbang bebas itu kita ‘hukum’ karena bulunya indah, bentuknya lucu, atau suaranya merdu. Mereka marah tapi apa daya mereka. Kita lebih kuat, lebih pintar, dan lebih mampu menyiksa. Binatangmalang itu akhirnya stress. Kala kita menaikkan sangkar tinggi-tinggi untuk menjemurnya , dibanggakan atau dilombakan mereka menjerit, menangis, meronta. Konyolnya, ketumpulan nurani kita menangkap itu sebagai kemerduan.

Karya “Agung nan Gemilang”

Kebrutalan kita tidak berhenti sampai di situ. Kita terus dan terus memproduksi perilaku bodoh lain. Marah yang tak harusnya marah, jengkel atas sesuatu yang tidak semestinya menjengkelkan dan anehnya juga gembira atas sesuatu yang seharusnya duka. Gembira atas kehebatan anak kecil bergaya dewasa di acara-acara idol televisi. Riang atas kebodohan yang dikemas sebagai hal hebat dan spektakuler. Sampai-sampai  begitu tumpulnya kita bisa dan terbiasa menonton berita kriminal sambil makan siang, sementara presenternya ringan saja menerocoskan kebrutalan demi kebrutalan layaknya gosip infotainment. Iklan berjibun. Para kru saling memberi ucapan selamat atas kesuksesan menumpulkan hati penonton. Mari-mari buat lagi yang makin ‘kreatif’. Penonton butuh yang lebih tidak normal, tidak umum, meski konyol tak mendidik sekalipun. Penonton senang, rating tinggi, iklan menggunung. Tumpul ketemu tumpul, ngawur ketemu ngawur. Terus.Teruss maju, pantang mundur.

Sampai suatu ketika, tiba-tiba sebagian kecil kita — ya sebagian kecil– menyadari betapa selama ini mudah saja membentak, meremehkan, dan susah sekali berempati bahkan pada orang-orang dekat kita: anak, istri, ayah-ibu. Terlebih teman, tetangga, kemanusian, makhluk hidup, dan seluruh ciptaan Tuhan.

Nurani kita hilang. Kita gadaikan dengan apa yang kita kira kemajuan dan kesuksesan.

Bulaksumur, 2011.