Jaket

Musim dingin kali ini sungguh luar biasa. 2 digit dibawah nol drajat. Salju menumpuk setinggi betis, sejauh mata memandang putih adanya. Banyak yang bilang indah, tapi saya menganggapnya pucat. Sepucat jiwa raga saya yang tersiksa dinginnya.

Awalnya memang indah: bintang putih berjatuhan dari langit, menyentuh muka kita yang tengadah, dan merubah rumput jadi kapas. Tapi karena hawa dingin menyertai selalu — dan seolah hanya untuk menyiksa saya—lama-lama keindahan itu menguap. Setiap meliwati gundukan salju saya minggir karena hampir yakin dari situlah hawa dingin berhembus…

Saya menggigit bibir, getir menahan rindu pada hujan di tanah air. Hujan sejati. Hujan yang menyirami tanah petani, yang mengisi cadangan mata air, atau menjadi banjir lantaran salah urus. Hujan yang benar-benar air, yang asyik oleh selingan halilintar, yang apa adanya sehingga jelas kita mau pakai payung, jas hujan atau ngiyup. Ah, jadi teringat ritual  pengendara motor menjelang hujan. Begitu gerimis, seolah  dikomando mereka menghentikan motornya, berjajar di bahu jalan, membuka jok, lalu mengibaskan jas hujan seperti matador. Itu isyarat pada langit kalau mereka siap dihujani. Tuhan lalu turunkan air melimpah ruah.

Di sini, juga semua Eropa, mana ada yang begitu.
Hujan tidak jelas. Mendung juga tidak terlalu berhubungan dengan hujan. Hanya rintik, itupun tidak  tulus. Malas  dan asal-asalan. Sepi tanpa sentuhan kilat dan petir.  Salju apalagi. Tidak segera jelas mau air apa es krim. Melayang gak karuan, menghambat perjalanan, menyebab kecelakaan, dan mengotori semua. Kadang saya berpikir, mungkin pada jaman dahulu orang sini melakukan kesalahan, lalu dikutuk dingin.

Begitu beratnya musim dingin sampai para manula pun berpesan pada kerabat atau kawannya ‘mudah-mudahan saya bisa meliwati musim dingin kali ini’. Seringkali itu jadi pesan terakhir.

Yaa para manula negeri modern. Drama mereka sering membuat saya terkesiap. Hidup sendirian. Bertebaran dimana-mana. Di taman kota, di jalanan, di warung dan toko-toko. Tinggal di rumah susun atau di panti dengan  manula lain. Berjaket tebal, memakai topi bulu dan topi Om Pasikom. Matanya bercahaya kala ketemu balita, mengira  dirinya. Berjalan dengan tongkat, senti demi senti. Tak mau dibantu juga tak ada yang membantu. Yang memilukan kalau mengejar trem. Terseok, tertatih, bertekad cepat tapi nyatanya lambat. Dan ketika tangan hampir menjangkau pintu, trem berlalu.

Maka berbahagialah wahai manula Indonesia. Kalian ditunggui kerabat dan handai tolan. Tersantuni bagai bayi. Memang adagium mengatakan ‘manusia tua  tidak membutuhkan dunia dan tidak dibutuhkan dunia. Tapi kami putra-putri Indonesia Raya bertekad tidak akan menyendirikan kalian. Kecuali….Ya, kecuali..kalau Indonesia sudah berhasil seperti Barat, sudah maju, sudah moderen, sudah keren, sudah berhasil niru seniru-nirunya  tanpa kritis dan mempertaruhkan apapun. Sampai –maaf tidak semua, tapi umumnya– kalau bisa kawin sama bule tergetarlah jiwa raganya lantaran terpuasi mental terjajahnya.

***

Meski sedingin apapun kalau memang kudu keluar, ya keluarlah. Toh salju sudah bersih sejak dua minggu lalu. Hari ini saya perlu ke Mekong, toko Asia yang seikat kangkungnya berharga 60ribu rupiah itu. Mau beli tempe Belanda yang agak pahit dan 19 ribu sekeping. Sebenarnya ingin juga oseng kacang panjang. Namun segera saya tekan ke bawah sadar, mengingat seuntainya berharga Rp 2.500. Semua bahan makanan Asia adalah harta mewah di Eropa. Bukan karena dikurskan rupiah, tapi memang begitulah adanya.

Saya intip langit dari jendela. Mendung. Halaman berkabut. Pasti dingin ini. Namun menjelang tengah hari, matahari keluar benderang. Teriknya menghujam ke sudut-sudut bumi. Di bawah pohon tinggi tak berdaun, dua manula terlihat bercakap di kursi taman, menikmati matahari. Naluri katulistiw saya mengatakan hangat di luar sana. Lebih hangat dari rumah saya yang berpemanas ini. Saya pun berkemas.

Biasanya saya pakai seragam musim dingin: kaos rangkap tiga, syal, sarung tangan, topi gunung, dan jaket kebesaran (=kegedean) pemberian Profesor Witruk. Jaket yang selalu saya pakai, yang anak-anak saya selalu menjauh lantaran geli dan malu ayahnya berjaket aneh. Warnanya coklat ngejreng,  semi norak ceria. Sekota ini yang punya hanya saya dan seorang nenek renta dari gedung sebelah, yang sering berpapasan saat mengantar kencing anjingnya.

Suatu ketika pernah saya bawa ke tukang permak pakaian untuk dikecilkan. Pikir saya paling bayar 2-4 euro, lebih mahal sedikit dari permak jean Perempatan Mirota Kampus UGM. Ternyata 40euro. Itu hampir separo harga barunya. Daripada menyesal seumur-umur, akhirnya saya jahit sendiri. Pakai setaples.

Siang ini jaket pensiun dulu. Kaospun hanya rangkap dua. Karena yakin kalau di luar sumuk. Akhirnya hanya dengan berbekal topi gunung yang tanpa sengaja terselip di tas pinggang, saya keluar menuju kota. Sementara itu, kejadian ganjil menunggu di luar.

***

Seharusnya ketika membuka pintu apertemen saya sudah tahu kalau di luar sedingin kulkas. Tapi matahari menipu. Terang sinarnya mengesankan kehangatan. Juga lari-lari kecil saya ke halte menaikkan suhu tubuh ikut menyumbang tipuan.

Sampai di halte, trem 6 menit lagi. Saya berdiri berjajar dengan calon penumpang lain. Tiba-tiba saya merasa semua mata memperhatikan saya. Pelan saya amati. Ya Allah, benar! Orang-orang menatap saya heran. Apa yang salah? Aduh kenapa ini?
Oww.. ternyata saya beda: hanya memakai kaos, sementara mereka berjaket brukut.

Mereka bingung orang Asia satu ini kok kuat sekali. Kali dari Korea, Jepang, atau China yang bermusim dingin. Mungkin di sana dia pekerja pabrik es batu.

Belum sadar penuh apa yang terjadi, tiba-tiba kawat berduri menancap punggung, lalu tangan, dada, dan kepala. Ngilu seluruh tubuh. Dari kepala yang mulai pusing saya lihat kaki saya bergerak makin keras, diikuti gemeretak gigi. Dingin yang menjelma jadi kawat berduri itu hampir sepenuhnya menguasai tubuh. Saya tidak lagi bisa berpikir jelas apa reaksi orang-orang menonton si kuat Asia ini nyaris roboh membeku. Saya juga sudah hampir menyelamatkan diri dengan jongkok memeluk lutut, tapi harga diri melarangnya. Saya juga sadar kalau terlihat terlalu kuat malah dikira sombong. Atau mereka makin kasihan –yang lain jengkel– karena tahu saya hanya pura-pura kuat.

6 mnt tepat. Trem datang. Pintu terbuka di depan saya. Menghambur ke dalam, langsung ke tempat duduk paling belakang. Menempel pemanas dan menyelamatkan muka.

30 menit kemudian keadaan terkuasai. Namun saya tidak berniat turun. Mekong sudah lama lewat. Tempe, kangkung, oseng kacang panjang raib semua, tidak menarik sama sekali. Satu-satunya isi kepala adalah bagaimana pulang selamat menembus dingin dengan busana minim. Saya terus berada dalam kereta , dari halte ke halte, muter-muter kota. Ratusan penumpang berganti naik turun. Menyisakan saya dan masinis.

Sore hari menjelang magrib, baru saya pulang, saat istri membalas SMS  “Mas, saya di halte. Jaket kubawa”.

 

Advertisements

7 thoughts on “Jaket

  1. Disini juga membayangkan betapa indahnya hujan salju, tapi sayang nggak akan pernah ada. Selalu ingat pepatah, hujan emas dinegeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Sikap nasionalisme inilah yg harus ditanamkan disetiap warga negara Indonesia.
    Dan Indonesia tetaplah Indonesia, tanah air yg kita cinta.

    1. kemarin sudah hujan abu, tidak kalah indahnya dengan hujan salju.
      hujan abu di negeri sendiri lebih baik dari pada hujan batu dinegeri orang.

    2. Bagaimanapun negeri kita jauh lebih baik dari manapun. apa2 ada, dan subur tiada tara. surga di katulistiwa kata orang2 sini. wajar kalau pada rebutan sejak jaman ekpedisi pelaut yunan, pra kutai, pedagang india dan persia, masa kolonialisme, hingga bakul2 dan non bakul dari amerika, eropa, china di jaman modern ini.

  2. nenek moyang sudah mewariskan teknologi utk keadaan darurat spt itu,penemuan tercanggih yg di sepelekan orang modern. penemuan itu adalah sarung. serba guna cocok segala medan. buat kenduri,kemasjid,sowan kyai dll tetap wangun. kalau keadaan darurat seperti dingin yang tiba-tiba, tinggal ikatkan dikepala lobang dibuka dikit dimata spt ninja, dijamin anget . Asal sarungnya bukan beli kiloan, yg bermerek dikit dan tebal. kalau kaki yang kedinginan hanya perlu ndodok sedikit jalanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s