Sepeda [1]

 

Sebelum berangkat ke Jerman saya tidak membayangkan akan bersepeda. Apalagi mengendarainya setiap hari. Saya memilih menggunakan alat transportasi kebanggan Jerman, yaitu trem yang kenyamanan dan keakuratan jadwalnya terkenal handal.

Setelah hampir 8 bulan di sini, rupanya takdir saya lain. Nyatanya 15 menit lalu, saya memasukkan sepeda ke keller (gudang bawah tanah) setelah terpakai 10 KM untuk Jumatan. Ironisnya, bukan hanya seminggu sekali saya lakukan itu, tapi hampir setiap hari. Artinya saya nyepeda terus.

Saya tinggal di Leipzig, dua jam dari Berlin. Kota komponis J.S Bach, filsof W.Leibniz, F.Nietzsche, dan penyair Goethe ini kira-kira sebesar Jogja tapi sesepi Klaten karena hanya berpenduduk 500.000 jiwa. Di kota ini berdiri universitas tertua kedua di Jerman yang Desember nanti merayakan ultah ke 600nya. Juga rumah opera Gewandhaus Orchestra yang pernah disinggahi komponis besar seperti Bethoven, Wagner, Bach dan menjadi baromater musik klasik Eropa hingga sekarang.

Memang tradisi Leipzig kental dengan seni, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ini masih bisa dinikmati lewat bangunan-bangunan kuno yang berarsitektur indah dari Abad Tengah, Renaissance dan Baroque.

Perang memisahkan Jerman menjadi dua belahan. Tapi tradisi Leipzig dan karakter masyarakatnya yang kuat tak tergerus revolusi kebudayaan komunis ala Uni Soviet. Puncaknya 9 Oktober 1989, 70 ribu warga Leipzig turun jalan meneriakkan yel-yel “We Are The People” dan mengawali revolusi damai yang kemudian menyatukan Jerman kembali, yang secara simbolis ditandai dengan robohnya tembok Berlin.

Pasca penyatuan Jerman, pemerintah menargetkan sampai 2010 eks Jerman Timur akan menyamai Jerman Barat secara fisik maupun kualitas hidup. APBN dialirkan dalam sekala besar, wajah kota dibenahi, industri baru didirikan (salah satunya pabrik BMW di sebelah rumah), hingga pertandingan Brasil vs Belanda pada Piala Dunia lalu digelar di sini. Tahun 2009 ini target telah tercapai 80 persen. Konon pemanjaan ini memicu kecemburuan sebagian warga Barat.

Di kota tua yang bangkit dari masa kelamnya ini, saya mulai mengakrabi sepeda..

Awalnya saya ditakjubkan oleh sistem transportasi di sini. Bayerichepltaz saja misalnya, dua halte dari rumah saya, adalah stasiun kereta api pertama Eropa, artinya juga pertama di dunia. Cukup menunjukkan betapa tradisi berlalulintas sudah sangat lama di jalanan sini. Wajar kalau Jerman menjadi tujuan belajar penataan transportasi modern.  Trem dan bus kotanya handal. Lalu lintas mobil –sebagian besar produk Jerman, sebagian lagi buatan Eropa dan sebagian kecil Jepang atau Korea—dan sepeda motor yang rata-rata 750cc ke atas, tertata rapi. Setiap hari, dari dalam trem saya mengamati keteraturan ini. Hingga saya dikejutkan oleh sesuatu yang selama ini terlewat: ternyata banyak orang bersepeda!


Sejak itu saya makin asyik mengamati sepeda, hingga nanti memutuskan beralih menaikinya.

Pertama yang segara tertangkap adalah orang sini bersepeda dengan kencang, bahkan sangat kencang. Dulu saya kira terburu karena mau hujan, telat atau sebab lain, tapi di sini jarang ada hujan lebat yang musti ngebut supaya selamat. Pun jarang orang lari dikejar atau mengejar waktu. Lalu mengapa ngebut? Alasannya saya temukan nanti.

Selain ngebut, menurut ukuran Jawa, mereka juga kurang sopan, misal belok atau nyabrang tidak tengok kanan-kiri. Anehnya belum pernah tabrakan. Saya menduga style nyepeda demikian terkait dengan serba teraturnya lalu lintas di sini, yang dihasilkan oleh sejenis ketaatan tingkat tinggi pada aturan dan tata krama.

Kedua, berbeda dengan model bersepeda orang Belanda yang pernah saya lihat di Leiden dan Amsterdam, orang Jerman tidak bersepeda dengan bergerombol, rombongan, atau berdampingan. Juga tidak berboncengan. Anak-anak memakai sepeda tanpa kayuh dekat ayah mereka, yang lebih kecil lagi masuk kereta sepeda. Sampai bagian famili bersepeda ini saya teringat kawan di masjid. Ali namanya, orang Bukittinggi yang menikahi wanita Jerman. Ali lagi gencar persiapan pulang ke Indonesia dengan istri dan 2 balitanya. Persiapan serius, karena mereka akan bersepeda! Menempuh jarak 11.000km, melewati 14 negara, dengan istri dan 2 anak. Meski tidak juga paham keganjilan jenis apa yang ada di kepalanya, saya diam-diam mengagumi. Ceritanya tentang pulang bersepeda itu selalu saja menggetarkan, mendesir-desir adrenalin dan mengalirkan kegairahan meski berpuluh kali dia ulangi.

Orang jerman bersepeda sendirian, ngebut, dan biasanya sambil memutar musik dengan MP3 player dan sejenisnya. Kalau melihat sisi positifnya mereka efektif dan efisien. Tapi untuk saya yang baru pemula terjun di jalanan Jerman, kurang nyaman dengan ini. Sering kali saya terkaget-kaget disalib, bahkan oleh ibu-ibu dengan anjing di keranjang belakangnya. Padahal perasaan sudah ngebut, presneleng mentok dan ngos-ngosan. Saya biasanya lalu menentramkan diri dengan menyalahkan sepeda bekas saya, atau ke diri saya sendiri yang tidak tahu cara merawat dan tidak biasa bersepeda. Tapi sebenarnya ini juga alasan yang dicari-cari.

Advertisements

4 thoughts on “Sepeda [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s