Sepeda (2)

Ketiga, [ini sekaligus menjelaskan mengapa mereka ngebut, tidak berjajar dan jagongan] jalan untuk sepeda sudah ditentukan. Warna merah,  lebar kira-kira 2 meter, dan mulus. Berada di bahu jalan utama, track sepeda ini terpisah dari jalur  kursi roda desabled person dan pejalan kaki. Juga punya lampu bang jo sendiri berbentuk  mungil menggemaskan. Karuan saja tidak pernah tabrakan.

Selain itu iktikad mobil, bus, bahkan trem adalah mendahulukan para pengonthel. Suatu ketika saya mengejar lampu hijau,  ngebut di belakang mobil yang akan belok. Perhitungan saya, begitu dia belok jalan di depan saya terbuka,  saya lewat.  Ternyata dia malah berhenti, memberi kesempatan saya untuk lewat lebih dulu.

Begitu pula kalau kita hoby potong jalan, ngebut waton, atau  ugal-ugalan, mereka akan memberikan jalannya. Polisi yang akan menangani. Ditilang. Denda tergantung besar kecilnya kesalahan, berkisar 20-30euro (450ribu rupiah). Nah, itu harga sepeda bekas saya.

Keempat, bentuk sepeda dan pakaian pengendaranya. Mulanya saya tidak begitu ngeh. Tapi kala ke Belanda kemarin baru sadar kalau ini berbeda. Sepeda Jerman (sejauh yang saya lihat di kota ini ) modelnya relatif modern dan kental sentuhan teknologi. Saya tidak tahu apakah istilah ini tepat. Maksud saya bentuknya tidak seperti sepeda Belanda yang familiar di tanah air, yang mribawani, eksotik, dan ngangeni, seperti yang pernah dipunyai almarhum Kakek dan kawan-kawan penggiat sepeda tua di Jogja.

Sepeda Jerman kesan saya canggih, simple, kuat dan sedikit congkak. Kebanyakan seperti sepeda gunung atau sepeda balap. Ada juga sepeda dewasa yang tidak pakai kayuh tapi lentur, mirip mototrail yang dipakai menapaki batu-batu terjal.

Ibu-ibu dan orang tua beda lagi sepedanya. Jenisnya seperti sepeda perempuan dengan rangka utama sebesar lengan orang dewasa, bukan lengkung atau berbentuk jengki, tapi dari setang menurun landai mengikuti bentuk roda depan, lalu mendatar bertemu rangka vertikal tempat sadel, di titik tuas gerigi depan. Dengan begitu ruang antara sadel dan setang terkesan lebar.

Ada pula sepeda untuk orang cacat yang dikayuh pakai tangan. Agak aneh berikutnya adalah sepeda roda empat yang naiknya sambil tiduran. Malah ada jenis yang dinaiki orang tua hampir renta, yang jalannya pakai baterei. Saya tidak tahu yang ini masih sepeda atau bukan.

Saya sungguh awam soal sepeda sehingga tidak bisa mendeskripsikan dan mengklasifikasikan dengan baik. Sepeda saya sendiri entah jenis apa. Kalau jengki, kok sebesar sepeda laki-laki yang dhalangannya melintang itu. Kalau perempuan kok dhalangannya tidak lengkung. Tapi kalau menilik sistem transmisinya yang canggih dan lembut, ini jelas sepeda balap atau gunung. Tapi… kok bentuknya jengki. Kali sepeda wandu, atau entahlah.

Tentang kostum. Meski tidak semua, orang di sini bersepeda dengan pakaian ‘resmi’: helm, kacamata, sarung tangan, kaos dan celana ketat. Pemandangan yang hanya sekali saya saksikan di Amsterdam. Di Jalan Kaliurang kadang saya lihat penyepeda seperti ini. Rupanya atlit DIY lagi melatih tanjakan Kaliurang.

Model pakaian resmi begini juga berlaku untuk para pengendara sepeda motor, yang rata-rata motor besar. Jadi baik yang naik sepeda onthel maupun sepeda motor wujudnya seperti pembalap semua. Sudah begitu naiknya kencang tidak karuan. Sampai saya berpikir mereka ini pejalan jauh, pembalap sedang latihan, atau orang biasa yang keluar untuk bersepeda, keburu kondangan, atau apa. Kalau orang biasa  mau ke kantor atau ke rumah teman, kostum begini jelas gak luwes.

Demikian pengamatan  sepintas saya. Lain kali akan saya sambung dengan style sepeda di Belanda yang beda dengan model Jerman.

Advertisements

4 thoughts on “Sepeda (2)

  1. renyahhhhhh, realität jerman yang di tampilkan dengan sudut pandang jawa…memikat!!! Semoga tulisan2 yang lain segera menyusul 😉

    1. Nuwun aprisiasinya kang.
      Tulisan sampean di Cermin Sejarah itu juga inspiring, bikin terhenyak.
      eh caranya biar isi blog ini bisa dicari di google dll bagaimana ya? sudah tak tag kok tetep tidak ditemukan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s