KUNCI

kunci

Saya baru saja mematikan komputer dan hendak tidur ketika tilpon berdering. Melintasi ruang tengah, menuju pesawat tipon, saya lirik jam dinding. Sepuluh lebih lima.

“Pak..Pak..Bisa datang ke sini?“, suara panik di sana.

“Istri dan anakku, Pak”

Itu adalah suara Anang. Sahabat karib, teman main, atlet nasional dan dosen olah raga yang sedang mengambil master di sini. Istri dan anaknya barusan datang 3 hari lalu, setelah berpisah setahun lebih. Selain bermaksud kumpul keluarga, ia berencana mengobatkan istrinya. Siapa tahu rumah sakit Jerman bisa membuat istrinya yang juga atlit kembali berlari, atau setidaknya berjalan normal tanpa diseret.

“Sudah satu jam lebih saya di depan pintu. Saya tilpon dan bel berakali-kali tidak ada jawaban. Padahal sejam lalu dia masih menilpon. Kira-kira ada apa ya, Pak…“.

Saya terbayang wajah istrinya yang lemah dan seperti selalu mau pingsan. Kecelakaan itu memang cukup fatal. Benturan keras di kepala yang menggeser syaraf servikalis di pangkal otak membuatnya bukan saja susah berjalan, tapi juga cepat lelah. Ditambah masih jetleg, anak yang sangat aktif, rumah lantai 3 tanpa lift, serta seharian sendiri menata perabobatan baru dan furniture, wajar membuat Anang khawatir.

“Mungkin ia tertidur kecapaian“ kata saya menenangkan.

“Tidak Pak. Dia mudah dibangunkan“

“Kunci pintu yang lain dimana?”

“Di dalam semua“

“Tilpon Hausemeister (penjaga rumah, red.) pinjam kunci serep. Kita ke rumahnya dengan bus malam. Kalau tidak ada bus kita naik sepeda“.

Tilpon ditutup, Anang menghubungi Hausmeister. Saya lihat kemaren dia melakban semua stop kontak setelah anaknya mencoba memasukkan kunci. Tapi –nah saya ingat– itu lakban tipis dan mudah robek. Jangan-jangan beberapa jam lalu anaknya kembali memasukkan kunci dan berhasil. Lalu kejang oleh listrik rumah los setrum yang juga dipakai menggerakkan kereta api se Jerman itu. Ibunya berusaha menolong dengan menariknya kuat-kuat, lupa kalau tubuh anaknya teraliri listrik.

“Pak, Hausmeister tidak punya kunci serep. Ia malah menyarankan saya memanggil tukang kunci. Biayanya 300 euro”.

300 euro setara kurang lebih 3,5 juta rupiah. Jumlah yang tidak sedikit.

Ia kembali mengetuk. Kali ini lebih keras. Ketukan yang nanti membangkitkan tetangga dan menyebabkan kejadian ini semakin rumit. Tidak ada respon dari dalam. Sepi.

Desah nafas kembali memburu.

“Saya ke rumahmu sekarang“.

Di halte Triftweg dekat rumah, saya menghubungi teman-teman. 10 menit kemudian saya dan 2 teman sudah di dalam trem menuju apartemen Anang.

Jalanan lengang. Bangunan universitas dan deretan aparteman yang kami lewati sudah gelap. Hitam menjulang. Menyisakan beberapa jendela menyala. Berkotak-kotak temaram. Di dalam trem kami duduk diam berhadapan. Tegang. Sibuk oleh bayangan dan pertanyaan masing-masing.

Di luar sana, malam musim semi terasa lebih dingin dan mencekam.

***

Sementara kami dalam perjalanan, Anang berusaha lagi membangunkan istri dan anaknya. Bersahutan antara ketukan pintu, suara bel, dan panggilan kalut. Kegaduhan ini membuahkan hasil. Tetangganya keluar.

“Ada apa?“ tanya lelaki tinggi, muda, berwajah dingin tapi ramah.

Anang menjelaskan apa yang terjadi sekaligus memperkenalkan diri sebagai penghuni baru. Satu tahun di Leipzig, dan 2 tahun sebelumnya di Frankfurt ia lancar bahasa Jerman. Itu belum sertifikat DSH, TOEFL Jerman, dengan skor setara 650 TOEFL miliknya. Saya yang tidak pandai bahasa Jerman hanya bisa merasakan sewaktu ia bertengkar dengan operator seluler. Nein! Nein! Nein! Mirip Hitler di film Quentin Tarantino.

“Tilpon 112. Emergency” saran tetangga.

“Bayar tidak?”

“Tidak. Tetapi kalau ternyata tidak darurat, kamu didenda 1.700 euro”

25 juu-taa ru-pi-aah.

Tetangga baik itu tinggal satu lantai tepat di bawah rumahnya.

“Saya pinjam jendelamu untuk naik ke jendela saya”

“Jangan. Bahaya. Bisa benar-benar datang ambulance nanti” jawaban lucu, tapi saat ini terdengar tragis.

“Kalau begitu tilpon tukang kunci” usul Anang.

Si tetangga menghubungi tukang kunci.

“Dia bilang tidak bisa datang kalau tidak ada perintah polisi“, katanya setelah menelpon.

Walah. Opo meneeh ikuu . Ternyata tukang kunci terhubung polisi. Tidak boleh asal buka pintu Anang karena bisa saja, misal, istrinya sengaja mengunci karena lagi bertengkar, atau sedang dalam proses cerai, atau Anang tidak berhak masuk, atau sebab lain yang harus diputuskan polisi.

“Hubungi polisi“

Si tetangga kembali menilpon.

“Polisi akan datang. Mereka akan memastikan keadaan dan mengambil tindakan selanjutnya“

“Terimakasih banyak“.

Tetangga masuk. Mengunci rapat pintunya. Sadar tidak boleh ada ketika polisi datang, karena bukan urusannya.

Tetapi sebentar kemudian keluar lagi. Kali ini wajahnya berubah misteri.

“Ini tentang uang 1.700 euro itu“ katanya berbisik.

“Aku ajari kamu cara menghindari denda“

Anang berbinar.

“Begitu pintu rumahmu terbuka, usahakan kamu masuk dulu!” Usahakan? Memangnya susah?, pikirnya.

“Temukan istrimu. Suruh dia pura-pura sakit!“

Si tetangga masuk lagi, meninggalkan Anang tertegun dan gelisah.

Polisi datang dengan alat pembuka pintu digital. Anang di belakangnya. Pintu terbuka, ia pun menghambur. Dilihatnya istrinya telungkup di lantai memeluk anaknya. Keduanya membiru. Tangan kanan istrinya menjulur mengarah HP di sudut ruang. Terlihat ia berhasil bergeser sekian jengkal, berusaha keras meraih HP untuk menghubungi suami atau siapapun meminta tolong. Usaha terakhir yang sia-sia.

Raungan sirine membuyarkan lamunannya. Anang mendesah lega.

Ia kemudian lari menuruni anak tangga. Di depan rumah, ia disambut keriuhan yang tidak pernah sedikitpun ia bayangkan apalagi harapkan.

Ia pun lunglai.

***

Paul-Gruner-Straße adalah jalan sepanjang 700 meter yang meliwati tiga blok. Sisi baratnya memotong kawasan pertokoan dan cafe yang sibuk di jalan Karl-Liebnecht-Straße, terus membujur ke timur berhenti di jalan Arthur-Hoffmann-Straße yang dilalui trem nomer 9. Apartemen Anang di ujung Paul-Gruner-Straße, persis di pojok pertemuan jalan, jauh dari kawasan cafe tadi.

Depannya berjajar hunian semi privat berhalaman luas, tempat tinggal orang kaya atau kalau tidak, manula. Jenis yang tidak menyukai kebisingan. Siang hari, jalan berbatu kotak-kotak selebar dua mobil ini lengang. Kalau malam tiba, senyap seperti gang berkabut di film vampir.

Tapi, malam ini istimewa. Gang ini akan menerima kejutan luar biasa yang belum pernah disaksikan penghuninya.

***

Anang tergopoh menuruni tangga, berlari melintasi loby lantai dasar, dan segera membuka pintu. Di luar, kilauan lampu emergency dan raungan sirine bersahutan menyambut.

Polisi, pikirnya.

Namun ia salah besar.

Di bawah silau lampu emergency yang berputar, ia lihat bukan hanya mobil polisi, tapi juga dua unit mobil kebakaran bertangga hidrolik dan satu mobil ambulan. Semuanya melengking dan berkelip atapnya. Parade ribut ini memenuhi jalan.

Penghuni lain membuka jendela. Kepalanya tersembul siluet menyembunyikan mukanya yang heran. Sebagian berdiri di balkon mendongak ke bawah, mengira pesta tradisional “Running of the Bulls” — orang mengejar dan dikejar banteng– di kota Pamplona, Spanyol, pindah depan rumah.

Anang terpaku di bingkai pintu. Sebagai atlit yang bertanding di dalam dan luar negeri, ia biasa disaksikan ribuan pasang mata, di bawah lampu ribuan watt. Tapi saat ini lampu putar emergency dan beberapa mata saja sudah cukup melunakkan tulang-tulangnya. Ia pun tak habis pikir mengapa begitu banyak yang datang. Bukankah tetangganya tadi bilang hanya polisi.

Tiba-tiba dari mobil pemadam berlompatan tubuh-tubuh raksasa berseragam jingga. Di belakang mereka dua petugas 112, yang satu menjinjing alat pacu-jantung. Terakhir barulah sepasang polisi Jerman: Model polisi yang tidak risau kegalakannya dapat mempengaruhi kunjungan turis. Gerombolan ini menuju Anang berdiri.

“Herr Anang Kusuma?“ setengah teriak. Polisi.

“Ich bin“

“Bawa kami ke apartemen Anda“. Efektif. Tegas. Menakutkan. Anang membawa ke atas. Gelisah.

Di depan pintu, tiga raksasa jingga maju dengan alat pembuka kunci. Ingat kiat-hindar-denda dari tetangga, Anang menyelinap ke depan, mengambil ancang-ancang di belakang mereka.

Saya harus masuk duluan, pikirnya. Belum penuh dia berdiri, muncul teguran.

“Kembali ke belakang. Jangan berdiri di situ. Menghalangi kami masuk“

Oo, inilah makanya tetangganya bilang ’usahakan’.

Sementara otaknya mencari cara, bayangan 1700 euro dan anak-istrinya menari-nari. Buah hati selamat tapi bayar 1700, atau ada apa-apa dan tidak bayar? Sungguh pilihan sulit.

Klak!

Pintu terbuka. Raksasa jingga menyingkir.

Anang refleks menyeruak masuk. Melompat gaya PON. Begitu meliwati pintu, matanya menyapu seluruh ruang. Kosong. Tak ada tubuh bergelimpangan. Begitupun di kamar mandi. Jangan-jangan pingsan di kamar. Ia pun melesat ke kamar, seperti menembus tembok.

Dalam temaram lampion, ia dapati anak istrinya tidur…

***

“Bangun, Bunda. Banguun!” gembira dan panik bercampur. Istrinya terperanjat dan spontan berdiri.

“Pura-pura sakit. Cepat…“

Terlambat. Belum selesai ia bicara, empat Jerman sudah keburu masuk.

“Istrimu tidak sakit, seperti kamu bilang” petugas 112 gusar.

“Dia sakit. Bener“

“Itu berdiri“

“Iya tapi sakit. Setahun lalu kecelakaan”

“Se-ta-hun la-lu. Kamu tidak seharusnya panggil 112. Kamu bisa ke dokter sendiri”.

Adduh. Mereka mau bilang ini tidak darurat. Gimana inii.

“Bilang, Bunda. Bilang kalau sakit” katanya mendesis-desis.

Seperti saya, istri Anang mending bicara Inggris daripada Jerman. Sebenarnya dia bisa jelaskan dengan Jerman, tapi huru-hara barusan, menyisakan pendar-pendar di kepala. Maka meluncur Inggris, bahwa ia sakit, kecelakaan, ke sini akan berobat dan sebagainya. Entah kecewa atau malu tidak bisa Inggris, petugas marah.

Memang Polisi sini jarang berbahasa Inggris. Arli, teman yang bergabung di trem tadi, S3 informatika tapi meminati fenomena bahasa, mengomentari kejadian ini. ’Mending polisi kita’, katanya. Polisi sini sering berhubungan dengan orang asing, seharusnya terlatih. Jangankan itu, petugas imigrasi yang jelas urusi orang asing saja jarang berbahasa Inggris.

Di tengah kebingungan istrinya, Anang berdebat soal sakit atau tidak. Akhirnya petugas penjinjing pacu-jantung berkata,

“Kita ke rumah sakit sekarang. Biar sana yang menentukan“.

Anang terkejut, tapi tak ada pilihan. Lantas menyuruh istrinya berkemas.

“Rasya, bagaimana? Kalau malam suka bangun. Belum lagi besok Mas kuliah. Ijinkan ke mereka saya bawa“

“Pasti tidak boleh. Lagian kamu kan ’sakit’“

Saat itu HPnya berdering. Panggilan dari saya.

“Saya, Arli dan Rangga, sebentar lagi sampai Bayrischer-Platz. Bagaimana di situ?“

“Pak, tolong Rangga suruh nyegat Dik Sisca di RS Uniklinikum, bagian notfal aufnahme, UGD“

“Anak-istrimu bagaimana?“

“Saya terlibat masalah besar…“

Malah ‘saya’. Gak nyambung, lagi kemelut.

“Ok. Terus ini ..“ pet. Putus. Karena polisi memanggilnya.

“Paspor dan surat-surat”

Anang menyerahkan map.

“Anda apanya dia?“

“Suami“

“Anda tinggal dimana?”

Loh. Ya di rumah ini. Suami je. Itu Indonesia. Di sini biasa suami-istri tidak serumah, dan bukan suami-istri malah serumah. Aneh memang, tapi begitulah. Lama-lama model begini nanti juga akan sampai Indonesia. Kan daya serap kami tinggi, daya terima budaya Barat juga tinggi, ditambah perilaku niru yang saking totalnya bisa lebih heboh dari aslinya.

“Saya serumah dengan istri”

“Mengapa tidak bisa masuk?”

“Kuncinya ketinggalan“

Polisi menatap lurus mata Anang. Lama, sampai tembus belakang kepala.

“Anda Asyl !?“

Jerman menampung pencari suaka politik dan pengungsi perang. Mereka disebutAsylum, pencari suaka. Sebutan tidak terhormat dan dicurigai.

“Bukan. Saya mahasiswa“

“Mana surat asuransi kalian“ pertanyaan sela Si Penjinjing pacu-jantung.

“Hmm .ehm..Belum jadi”.

“Apa-apaan ini! Bagaimana kalian bisa sampai sinii??“ Polisi berseru. Kesal karena logikanya tidak bisa dipakai sejak awal.

“Maaf Bapak-bapak. Kami datang tiga hari lalu. Tadi siang saya sudah daftar, tinggal tandatangan istri besok.”

Interview selesai.

Mereka membawa Sisca pergi, meninggalkan Anang dan balitanya.

****

Halte Bayrischer-Platz dekat stasiun kereta api pertama dunia yang masih terawat. Kami turun di sana. Rangga, mahasiswa solar-energy semester awal, bergegas ke arah RS Uniklinikum. Saya tilpon Anang tanya bagaimana, ia jawab’alles klar'(sudah beres), diikuti tawa kecil dan seruan khasnya sambil canda ‘katastrophe…katastrophe..’ (bencana)

‘Ke sini saja, Pak. Tak ceritani’.

Saya dan Arli santai menuju rumah Anang.

Pukul 2 malam, tapi hati saya melihat langit seperti pagi. Warnanya putih keperakan, menebar harum, dan mengganti dingin malam ini dengan hangat. Ada letup-letup syukur dari relung sana.

Terimakasih Ya Allah, terimakasih..

——-

:: CATATAN ::

Observasi laboratorium RS.Uniklinikum menyatakan istri Anang positif sakit. Ditemukan perubahan signifikan struktur syaraf belakangnya. Dokter bilang akan segera mendiskusikan dengan timnya. Rasya terus tidur sampai pagi. Anang kembali ke kampus berkegiatan seperti biasa. Ia merasa mendapatkan pelajaran berharga, berhikmah, dan berjanji akan bawa kunci.

Advertisements

11 thoughts on “KUNCI

  1. *deg2an bacanya*

    Ya Allah, mahal amat ya Om dendanya. 1700 Euro bisa buat beli MacBook Air itu :D. Untung ga jadi didenda ya. Alhamdulillah deh.

  2. ya ampun gara – gara kunci..

    Pak ruwet bener baca tulisannya… gara2 kebanyakan novel jerman ya Pak.. tapi sukses bikin deg2an juga disini…

  3. Just wish to say your article is as amazing. The clarity for your publish is just great and that i can think you are an expert on this subject. Fine together with your permission allow me to snatch your feed to stay updated with drawing close post. Thanks one million and please continue the enjoyable work.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s