Imammuda

Pengajian akan dimulai ketika hujan turun lebat. Atap rumah dari policarbon yang biasa untuk garasi mobil mengubah suara hujan menjadi gemuruh. Ditambah sesekali tiupan keras angin di luar memaksa kami diam atau bicara lantang semi teriak. Berikutnya adalah tetesan air dari atap plastik itu. Bocor. Makin lama makin mengucur deras.  Meja ustad digeser, tikar-tikar dilipat. Melihat ini saya pesimis pengajian akan berjalan normal apalagi lancar. Selain kesulitan mendengar ceramah juga masak mau jongkok di lantai.

Rumah besar bergaya Eropa di pinggir sawah ini memang belum dihuni. Sepertinya pemiliknya masih kerasan di rumah satunya. Sembari menunggu kehadiran beberapa tetangga ia menyempurnakan bebarapa bagian. “Termasuk seng plastik keliru ini“ katanya menunjuk atap yang bocor.

Seorang anak muda masuk rumah. Agak basah kuyup. Belum juga ia lepas jaketnya, ia mendekat tuan rumah menyampaikan sesuatu. Wajah tuan rumah berkerut oleh berita penting, lalu katanya ke para tamu “Suadara sekalian maaf, ustad pamit tidak hadir karena ada acara di pesantren”.

Saya hampir kecewa. Tetapi lalu tidak karena biasanya akan diganti Allah.

Setiap Sabtu orang-orang berkumpul di rumah ini untuk mengkaji kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Abu Hamid Al Gazali. Konon model pengajiannya beda karena Ustad bukan saja menjelaskan tapi menerjemahkan tidap katanya. Intinya sambil belajar bahasa Arab. Saya sendiri baru kali ini datang. Ingin tahu bagaimana tepatnya. Makanya suara berisik hebat dan otap bocor tadi membuat saya pesimis. Sekarang pesimisnya sudah benar-benar hilang diganti yang lebih jelas:  ustad tidak datang.

Mundur sedikit. Tadi, waktu hujan lebat, ditengah suara berisik atap plastik saya lihat tuan rumah bercakap di tilpon dalam bahasa inggris. Nampaknya beliau sedang memandu seorang tamu. Mahasiswa muallaf dari Afrika, katanya. Menuju ke rumah mau ikut pengajian.

Hujan mereda. Ruangan senyap. Orang-orang lega. Pengajian lalu di buka. Karena tiada ustad maka akan diskusi terbuka saling bicara. Sebenarnya sebagian yang datang adalah ustad, namun selain sesama ustad dilarang mendahului juga tidak banyak yang menguasai bahasa arab. Tuan rumah selaku pemandu menyalakan laptop dan LCD. Di tembok terpampang bab 6 kitab Ihya Ulumudin: Keajaiban Hati. Saya menduga kalau ustad datang dia akan baca menerjemahkan itu. 

Baru akan dimulai, tiba-tiba tuan rumah berteriak ketika seseorang masuk ruang. Naah ini dia. Pas banget. Katanya.

Lelaki muda, arab, memakai keifiyah yang ditutupkan di kepala. Loh kok Arab. Tadi katanya Afrika, pikir saya. Adakah ini orang yang berbeda.

Intifada, seru tuan rumah. Saya teringat sosok begini melempar batu ke tank-tank Israel di jalanan Gaza. Sebagian diangkut karena berdarah. Pakaian mereka mirip yang dikenakan anak muda sore ini. Jaket terbuka dengan kaos, wajah arab bercambang dalam balutan keifiyah. Tuan rumah langsung menuntunnya ke depan dan memperkenalkan ke kami, menyebutkan namanya, dan menjelaskan bahwa ia dari Arab –tepatnya Palestina–mengambil s3 di sini. Tuan rumah mendaulatnya menggantikan ustad. Kami bergembira  karena kali ini bukan ustad jawa mengerti Arab tapi benar2 orang arab. Inilah yang saya maksud dengan kecewa saya diganti Allah. Pasti ini lebih menarik pikir saya.

Tapi ternyata nanti perkiraan saya tidak sepenuhnya benar.

Mas Arab memulai. Selain  mahir berbahasa Arab karena memang orang Arab, ia juga meguasai nahwu dan shorof (grammar dan perubahan kata Arab). Tak hanya itu ia juga pitar balaghoh dan mantiq (sastra dan logika). Jadilah bab keajaiban hati kitab Imam Gazali sore itu bertambah keajaibannya. Sesekali saya bayangkan ia adalah Imam Gazali kala muda, saat beliau menulis Tahaafuz falaasifah kitab filsafat yang secara fenomenal menyerang filsafat waktu itu: energik, cerdas, dan agak meledak-ledak. Satu hal yang membuat saya terkesan adalah caranya dia menghayati –saya melihatnya demikian– pengucapan hal-hal berkait kebesaran Allah, seperti rahman rahimNya yang ia ikuti dengan penjelasan dengan bahasa Inggris dan Arab selang seling bahasa Indonesia. Nampak benar ia memiliki keimanan dan kepasrahan tinggi kepada Allah. Hidup kita hanya kepadaNya kita gantungkan, katanya. Luar biasa.

Magrib datang. Semua berhenti. Sholat jamaah dilanjutkan makan soto bersama. Tapi beliau yang muda tadi tidak nampak. Kemana gerangan? Saya mencari-cari. Tiba-tiba pandangan saya terantuk pada bayangan gelap di pojok rumah belakang di halaman samping. Siluet orang berjongkok memakai keifiyah. “Imam Gazali” saya sedang merokok…

Advertisements

One thought on “Imammuda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s