TAQWA itu TUJUAN PUASA

Tujuan puasa adalah menjadi manusia taqwa. Puasa bukan untuk kesehatan, kekuatan, ketahanan dsb tapi taqwa. Andai puasa menyebabkan sakit pun harus dilakukan karena perintah. Beruntung kita, puasa tak menyebabkan sakit sebaliknya bahkan menyehatkan.
Lalu, apa itu taqwa?
Taqwa adalah kepatuhan, ketundukan, ketaatan kepada Allah yang diikuti atau dibuktikan dengan tindakan baik kepada diri dan orang lain. Kurang lebih begitu definisinya. Lebih jelasnya kita kenali cirinya. Dengan tahu cirinya –adakah itu ada pada kita—kita akan tahu sendiri yang dimaksud dengan taqwa.
Quran menyebut tanda pribadi taqwa yang tersebar di beberap surat dan ayat. Pada intinya tanda taqwa terlihat pada hubungan kita dengan Allah, dengan diri sendiri, dan perilaku kita terhadap orang lain. Atau bisa dikatakan bagaimana sikap taqwa kita terlihat dari bagaimana kita berhubungan dengan 3 unsur itu.

TANDA TAQWA BERKAIT HUBUNGAN KITA DENGAN ALLAH
1. Taqwa itu percaya lahir batin pada hal gaib. Al baqoroh : 2.
Percaya gaib itu bukan sperti percaya adanya hantu, tuyul, dan perkara takhayul seperti itu  yang bisa menjerumuskan kita pada kemusyrikan. Lalu apa hal gaib itu?
Hal gaib dijelaskan dalam rukun iman, yaitu Allah, Malaikat, Kitab2, Rosul, Kiamat, Takdir. Itu yg pokok. Jangan kepercayaan kepada Allah belum bulat kita malah sudah tergoda percaya pada hantu dan takhayul2. Ingat sabda Nabi yang mengatakan percaya dukun akan menyebabkan solat kita tertolak 40 hari. Mengapa? Karena itu menganggu, mengurangi, bahkan membelokkan kepercayaan kita pada Allah.
Begitu pula percaya pada Nabi dan kitabnya. Tidak perlulah untuk iman pada Nabi kita mesti menunggu bukti sejarah atau penemuan arkeologis, misal ditemukan bangkai kapal nabi Nuh, baru kita percaya Nabi Nuh. Dan ketika tidak ada dukungan penemuan seperti itu keyakinan kita berkurang. Itu tanda kita tidak iman. Itu sama dengan untuk percaya Nabi Muhammad kita mesti membaca dulu tulisan para orientalis karena kita anggap mereka obyektif, ilmiah dsb.
2. Taqwa itu – al Baqoroh:2 dan 177– mengerjakan sholat.
Tepatnya mendirikan sholat, artinya mengerjakan secara konsisten tidak bolong-bolong. Mengaku diri muslim, tapi solat tidak rajin, jarang solat, malas2an, pastilah tak ada tanda taqwa di dalamnya. Sholat itu perbuatan pertama kali yang akan dihisab Allah. Artinya baik buruk kita tergantung sholat kita. Sholat kita taqwa kita. Tidak solat tidak taqwa, pasti tidak yakin Allah, pasti bukan orang baik dlm pandangan Allah. Bagaimana kalau kita muslim yang sudah baik kepada sesama, toleran, hormat, suka membantu, tak pernah recoki, berguna bagi dunia tetapi tidak sholat? Jawabnya jelas sekali kita bukan muslim yang baik. Bisa jadi kita masuk klasifikasi munafiq dan fasad, perusak.
Ada tambahan menarik. Orang taqwa itu –Az-Zaariat:17—bangun malam utk tahajud, munajat, menghadap Allah.
3. Orang taqwa itu mengimani, yakin seyakin2nya- atas hari akhir. Baqoroh: 3.
Hari akhir itu rangkain kejadian kiamat, alam barzah, hisab atau timbangan amal, dan terakhir surga neraka. Hari akhir bukan hanya kiamat. Kalau kiamat banyak yang percaya, malah terlampau percaya. Seperti  fenomena ramalan2 kiamat, berakhirnya kalender maya 2012 yang berarti akhir dunia dan ramalan2 heboh lain yang selalu tak terbukti tapi sangat ingin dipercaya bukan saja oleh muslim tapi juga oleh non muslim. Lalu apa yang yang kita jarang atau sangat sulit percaya? ialah surga dan neraka. Banyak dari kita yang muslim tidak sungguh-sungguh takut neraka. Hatinya tidak benar-benar bulat menerima neraka surga ini. Tanyalah dan jawab jujur pada diri: sungguhkah kita percaya dan takut neraka? Fakta rendahnya kualitas kita – suka mencuri, tidak jujur, tidak hormat, meremehkan, merasa lebih, jahat, rakus, merusak apa saja—karena kita tidak takut neraka. Itu saja. Sebab lain hanya turunan ini.

TANDA TAQWA BERKAIT DENGAN KONDISI DIRI SENDIRI
4. Pribadi taqwa itu kalau melakukan kesalahan, berbuat dosa, aniaya diri, ia tersadar akan  Allah dan tersungkur mohon ampun. Ini jelas sekali tertoreh di Ali Imron: 135.
Kalau berkali kita sadar lakukan dosa kok tak ada iktikad mohon ampun, malah tenang, bangga, dan ulangi, alamat tak ada taqwanya.
Biasanya muncul pertanyaan begini. Bagaimana kalau sudah bertobat mohon ampun tapi selalu terulang lagi dosanya?  Jawabnya hanya satu: itu pasti belum sungguh2 bertekad. Gayanya atau perasaannya saja yang karena lemah jiwa seolah sudah sungguh-sungguh, tapi sebenarnya tidak.
Sepulang dari pertempuran Badar yang sangat menentukan karena jumlah muslim tak sebanding dengan musuh yang akibatnya harus berjuang maksimal, Nabi katakan kepada semua “kita barusan melalui pertempuran kecil dan menuju perang besar”. Tentu mengagetkan semua, pertempuran macam apalagi yang lebih besar dari Badar. Sabda Nabi selanjutnya “Jihadun nafsi”, perang melawan diri sendiri. Maksudnya menundukkan nafsu, kalau kita memenangi pertempuran diri itu berarti lebih besar dari kemanangan perang Badar. Bisa bayangkan betapa dahsyatnya, sehingga tidak bisa dengan ringan ketika dosa kembali terus-terusan kita ulang kita bilang ‘lha sudah usahe e’. Enteng kali.

(sambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s