Monthly Archives: July 2014

Naik Kereta Api

Jum’at lalu saya ke Ciamis menghadiri mantenan sepupu. Rencana semula ingin pakai mobil, tapi Mas Irwan dosen UII, mhs TU Berlin yang asli Ciamis, menyarankan naik kereta Pasundan, kereta ekonomi Surabaya-Bandung lewat Yogya.

Waktu kami kecil ayah sering membawa kami naik kereta ini mengunjungi famili di CIamis. Dari Semarang  dengan bis atau travel ke Jogja, menginap semalam di losmen depan stasiun Tugu, lalu paginya naik kereta Pasundan tujuan Bandung. Perjalanan 7-8 jam di tahun 80an tidak terasa lama dan melelahkan. Selain karena tidak berdesakan seperti sekarang, juga terhibur oleh para pedagang. Yang paling kami nanti adalah penjual pecel Kroya yang dagangannya disunggi nyaris menyentuh langit-langit kereta. Di luar kereta hamparan sawah, sungai, bukit dan hutan kecil mirip pemandangan Munchen-Venesia melengkapi kebahagiaan.

Sejak tahun 90an kenyamanan kereta Pasundan –juga semua kereta kelas ekonomi– lenyap. Kereta sering terlambat, pedagang dalam sepur makin banyak, penumpang berjubel tak terkendali hingga di sambungan dan bahkan WC, nomor tempat duduk tidak berlaku, rebutan seperti di pesawat Irlandia, Ryan Air. Banyak copet, pengap, kotor, dan bau. Sudah begitu setasiun yang disinggahi kumuh tidak terawat. Lempuyangan Jogja, stasiun penumpang kelas ekonomi –ekonomi pas-pasan–, persis pabrik Jepang yang ditingalkan, dihuni gerbong rusak yang jadi rumah wanita tuna susila dan gelandangan. Kumuh, pesing, memilukan. Itu dulu!

10 tahun lalu ayah yang sakit ingin nengok kampungnya. Kami tidak mungkin berkerta, karena selain tidak manusiawi juga nuansanya tidak berbakti. Sejak itu pakai bus atau kendaraan pribadi. Terkadang kalau sendirian ke Ciamis ada terbesit keinginan untuk bernostalgia dengan KA Pasundan itu, tapi buru-buru saya urungkan. Ngeri.

“Pakai Pasundan saja Mas. Sekarang sudah bagus kok“. Itu kata Irwan beberapa hari lalu.

“Seperti Bahn.de, ya?“ timpal saya sambil lalu. Bahn.de adalah PT.KAInya Jerman.

Saya mulai tertarik waktu dia menyebut karcis harus dipesan jauh hari. Minimal H-7.

‘Masa sepur ekonomi seperti itu, Wan?’

“Yang bisnis dan eksekutif malah bisa pesan di minimarket seperti Indomart dan Alfamart. Tidak harus di stasiun“.  Irwan berdasar pengalamannya bahkan memastikan semua penumpang duduk sesuai nomor kursi. Nah ini yang menarik. Ryan Air rute Berlin-Malaga-Paris saja rebutan kursi.

Dengan agak ragu saya batalkan bermobil dan bergegas ke stasiun Lempuyangan untuk booking tiket.

Seminggu menunggu dengan cemas, dan makin tegang karena ‘bertaruh’ dengan adik yang sangat Australia dan anggap manapun tidak sebanding, termasuk dengan Indonesia, apalagi kereta ekonomi.

**

Datanglah hari H. Jam 9 pagi saya dan rombongan berangkat.

Sampai Lempuyangan, stasiun kelas ekonomi Yogya, saya terhenyak. Stasiun yang dulu mirip bekas pabrik Jepang yang ditinggalkan itu kini berubah total seperti disulap. Dari luar tersuguh pemandangan parkir tertata rapi. Lebih rapi dari Central Stasiun Leiden, Belanda.

Masuk stasiun, Ya Allah bersihnya. Deretan bangku tunggu stainless-steel, pot-pot bunga, lantai mengkilap, bantalan rel bersih tanpa ceceran oli seperti relnya LVB, trem Leipzig. Hbf Chemnitz lewat. Selain rapi bersih juga hanya yang bertiket yang boleh masuk peron, pengantar cukup sampai gerbang. Mirip bandara.

Yang mencengangkan adalah smoking area. Ada tulisan besar di atas kursi-kursi gandeng di bawahnya. Seperti di Dubai International Airport, di Narita, atau di bandara San Francisco AS.

‘Ah paling basa-basi. Hanya tulisan tidak berfungsi‘. Saya sulut sebatang rokok, iseng untuk tes. Belum juga korek menyala, datang petugas. ‘Maaf Pak, silakan merokok di sana, di Smoking area’. Hehe..mangstaaab betul ini.

Setelah itu, keajaiban demi keajaiban terjadi. Kereta, misalnya, datang tepat waktu (tiket tertulis 10:33, seperti gaya Jerman. Bukan bulat 10:30). Iwan Fals harus merubah lagunya ‘yang berjudul “kereta tiba pukul berapa”.

Di dalam kereta, betul kata Irwan, semua penumpang bukan saja tidak ada yang berdiri, tetapi duduk sesuai nomor kursi. Interior tentu saja tidak sebagus kereta RB apalagi ICE Jerman atau TGV Prancis, tetapi tidak berdesakan saja sudah lebih dari cukup. Lantai bersih dan tidak ada penumpang merokok. Ini sangat kontras dengan keadaan beberapa tahun sebelumnya.

Saya segera sms ke adik ‘Tpt wktu.tdk berjubel.dduk ssuai kursi.lancar.nyaman’.

‘Tuh lht, bkn hanya Ustrali Ustraliii melulu. Kita jg bisa baik.’ yang ini dalam hati. Bkn SMS.

Tiba-tiba saya teringat sesuatu dan menjadi berdebar. Penjual pecel! Kemana mereka. Jangan-jangan sekarang dilarang naik. Empat stasiun terlewati tak juga mereka muncul. Saya nyaris mengihlaskan ketika teriakan kopi panas yang diulang menyeruak dari sambungan gerbong diikuti parade pedagang asongan dan peminta-minta. Di antara karnaval mereka tumpukan sayur pecel melambai-lambai di atas kepala penjualnya.

Menjelang asyar kereta sampai tujuan. Menengok jam tangan, saya terperanjat bahagia. Buru-buru saya SMS. ‘Semua persis perkiraan.Tertib, rapi, bersih. Syg ada cacatnya: KA smpi Banjar 2 MENIT LBH CPT dr jadwal. Jgnkan Ustrali, Jerman sj kalah!’. Tidak ada balasan.

Usai sholat Asyar di Mushola setasiun yang toiletnya bertuliskan gratis untuk yang bertiket dan lagi-lagi bersih harum, saya tertegun di bangku peron. Perasaan bahagia, bangga, terharu bercampur-campur. Makin optimis negeri ini bakal maju.

Advertisements