Monthly Archives: September 2014

Tidak bersyukur

Gedoan terengah-engah menekan dadanya. Istrinya yang pencemas memegangi pundak dengan gelisah. Keduanya di jok belakang mobil Alpard yang baru. Sepuluh menit lalu mereka sedang membicarakan renacana launching tokonya yang ke sembilan  saat tiba-tiba Gedeon tersekat, melenguh kera.
Kini sopir memacu mobil ke rumah sakit, berkejaran dengan nafas majikannya yang semakin memburu.
“Tidak apa-apa. Anda sehat” kata dokter yg memeriksanya kemudian.
Istri Godean lega. Wajah cemasnya berubah cerah. Tidak demikian Gedeon. Ia tdk terkejut atau puas. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan dokter karena ‘serangan jantung’ demikian sudah beberapa kali ia alami, dan selalu berakhir tidak apa-apa.
Biasanya dokter akan mengatakan anda capai, kelelahan, stresss atau depresi, perlu istirahat mondok di rumah sakit. Berapa hari kemudian dinayatakan sembuh dan boleh pulang.
Banyak, sangat banyak, orang seperti Gedoan. Nampak baik-baik bahkan dinyatakan sehat secara medis tapi merasakan sakit. Fisik mereka tidak sakit meski pikiranya megira demikian. Yang sakit adalah psikis, jiwa, ruhani, atau pikiran yang lalu mempengaruhi fisik tubuh. Istilahnya Psikosomatis yaitu gangguan kejiwaan yang mempengaruhi kesehatan fisik.
Penyakit demikian disebabkan oleh kekosongan hidup atau hidup seolah tidak bermakna atau sia-sia lantaran kecewa, sakit hati, gagal, atau – – yg mengerikan – – tidak tahu mengapa susah.
Penyebab dari semua ini adalah ketidakmampuan bersyukur dan bersabar.

Shared from Google Keep