Roemah Joglo

Petang hari di pinggiran kota yang padat hunian. Begitu padatnya hingga gangnya sulit untuk papasan mobil karena bahu jalannya disesaki warung makan dan loundry.

Rumah di ujung pertigaan atau tusuk sate adalah tujuan saya. Rumah tidak jelas terlihat lantaran tertimbun pohonan perdu yang berjumbai menutup pagar. Pasti di bawah akar sana tersimpan kantong air yang berlimpah. Sejuk dan tenang. Saking rimbunnya saya kesulitan menemukan pintu gerbang. Untung ada lampu kecil dekat nomor rumah. Setelah masuk membungkuk di bawah tanaman semak berbentuk gua saya terperanjat mendapati bangunan besar hita. Rumah Joglo!

Tidak perlu lama duduk di terasnya yang remang untuk segera tahu kalau ini joglo etnik, joglo tua. Empat tiang utama ukuran 30cm, kokoh dan cekeh. Disangga oleh umpak batu candi yang besar dan tinggi Joglo ini menjadi terangkat dan menjulang.
“Sengaja saya buat begini supaya lapang dan tidak sumpek”, kata si empunya.
Tiang, usuk, blandar semua jati. Dan –inilah— tidak dipasah mesin tetapi “dipethel” manual memakai tangan. Hasilnya tidak rata, tidak simetris,  pun tidak rapi, namun justru menegaskan eksotisme dan alamiah. Kalau bukan pemerhati bangunan tua tentu saya sudah memutuskan pulang. Nyatanya saya berbincang lama di teras temaram ini.

Pemilik rumah menuturkan kisah petualangan berburu joglo di berbagai tempat dan masa yang berbeda. Fondasi batu candi diangkut dari lereng Merapi, pagar besi tempa bekas rumah gadai jaman Belanda di Cirebon, tegel kunci pola lantai PB IX di Solo, kayu kandang kebo Blora, lampu gantung Rembang,  dan kisah-kisah seru lain. Semua didapatkan dengan cara unik mulai dari membeli, lelang, membujuk, rebutan, hingga diberikan begitu saja oleh pemilik.

“Rumah ini bernyawa” bisiknya.

Rumah merepresentasikan  jiwa penghuni. Saya teringat film The House of The Spirits (1993) yang diangkat dari novel Isabel Allende ‘La casa de los espiritus’. Sebuah film drama yang sangat kuat bukan saja oleh karakter tokoh tetapi juga keseluruhan film.

Joglo tua ini pun begitu. Ia dihidupkan perancang yang sekaligus pemilik. Ada kisah, ada dongeng, ada nuansa gerak dan nafas melingkupi sekaligus menghidupi jiwa para penghuni.

Lain halnya dengan saya. Saya sejak kecil terlanjur trauma dengan rumah joglo. Semakin tua joglo semakin sesak dada. Joglo tua membangkitkan kenangan masa kecil saya akan rumah Mbah Sarpin, lelaki kurus rival pilkades kakek yang dalam bayangan saya adalah seorang tukang sihir. Tukang sihir jahat yang sewaktu-waktu akan merubah kakek jadi kodok. Saya cemas luar biasa. Meski akhirnya  kakek memenangi calonan lurah itu saya tetap saja trauma terhadap Mbah Sarpin dan apapun yang ia punyai, seperti lembu, sepeda tua, dan rumah joglonya.

Trauma ini diperparah sekian tahun lalu ketika demam hobi rumah Jawa menghinggapi para ‘penjajah baru’ baik pendatang bule maupun lokalan. Mereka membeli murah rumah dan tanah di sini, membangun dan menempati, memiara kacung, membayangkan nenek moyangnya berbuat serupa berabad silam. Sebagian bahkan membeli atau menyewa pulau. Dan sebagaimana kalian tahu, drama imperialisme selalu kemudian dekililingi jiwa-jiwa ‘inlander’ — pribumi, orang lokal, antek, mata-mata Londo, babu-istri, perempuan berambut merah atau kata tukang becak LKMD (londo kok mung ndase) yang mengharu biru sangat ingin dipacari bule, atau kejang2 setiap hari karena kegirangan tercapai cita-citanya itu– merka  semua melayani dengan segenap ketakdziman seorang budak yang hanya bisa dijelaskan dengan psikologi inferior orang jajahan. Para jongos di rumah sendiri. Seolah melengkapi dialektika Fredrick Hegel, filsof Jerman era Aufklarung, sikap penolakan saya menjadi antitesa dari drama penjajahan terselubung ini, yang dalam konteks ini terartikulasikan oleh sosok rumah Joglo.

Biasanya saya menyudahi kegeraman demikian dengan istigfar, bertaawud mohon dijauhkan.  Dan –malam ini– saya lebih memilih mendengarkan kisah seru pemilik rumah: orang Jawa yang menghidupkan rumah Jawa, dengan cinta tulus cerdas dan benar. Bukan karena silau pada mitos para penjajah baru : orang-orang yang menggunduli hutan demi Joglo baru seisinya (meja kursi, kacung, burung dalam sangkar,  perempuan, dan lain sebagainya). .

Advertisements