Monthly Archives: January 2015

Sholat: Batas Iman dan Kufur

Khutbah Pertama

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.

أما بعد

Jamaah rohimakumullah.

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, sholawat salam kepada Nabi Agung Muhamad SAW, keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Marilah kita bertakwa kepada Allah SWT dengan takwa yang sebenar-benarnya.

Hari ini kita kini tengah terjebak di dalam timbunan kesibukan dunia yang materialistik bersama beragam problema jiwa dan ketegangan syaraf yang ditimbulkan oleh nafsu. Kita lantas sangat membutuhkan sesuatu yang bisa menghibur. Melepaskan beban penderitaan, dan membangkitkan perasaan tenteram di dalam hati dan perasaan tenang di dalam jiwa, jauh dari kesulitan, kegelisahan, dan keresahan.

Namun, mana mungkin kita bisa menemukan hal itu di luar naungan Islam dan ibadah-ibadahnya yang agung, yang merupakan terapi rohani yang mutlak ampuh dan tidak tergantikan oleh terapi manapun.

Ketahuilah, bahwa ibadah yang memiliki pengaruh terbesar dalam hal itu ialah Shalat, baik Shalat fardhu maupun Shalat sunnah.

Allah berfirman :

يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ

Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan Shalat sebagai penolongmu.” (QS.Al-Baqarah :153).

Di S. Al-Ankabut: 45 Allah berfirman.

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ

Dan dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”

Mari kita cermati firman di atas.

Di dalam al Quran perintah shalat selalu datang dengan redaksi, “iqamah” (menegakkan). Artinya adalah melaksanakan secara sempurna dan penuh perhatian. Ini berarti sholat tidak bisa dilakukan sambi lalu, baik dari segi menjaga waktu, yaitu tidak menunda-nunda, maupun sempurna gerakan dan bacaaan, serta khusuknya (menyadari kehadiran Allah). Lebih-lebih berarti sholat tidak boleh dikerjakan tidak rutin dan disiplin.

Hal itu tidak lain karena shalat adalah komunikasi antara hamba dengan tuannya. Manusia dengan Tuhan, kita dengan Allah. Berdiri di hadapan AllahSubhanahu wa Ta’ala dalam shalat memiliki efek yang sangat besar dalam memperbaiki jiwa manusia,bahkan seluruh masyarakat manusia.

Nabi SAW pernah bersabda kepada Bilal :

Bangkitlah hai Bilal, hiburlah kami dengan shalat.’’ (HR.Ahmad, 5:371, dan Abu Daud, 4986). “Dan setiap kali dirundung masalah, beliau selalu melaksanakan shalat.” (HR. Ahmad, 5:388 dan Abu Daud, 1319 )

Shalat merupakan mi’raj ruhani bagi seorang mukmin. Karena ruhnya bisa membawanya mi’raj, ruhaniahnya bangkit, setiap kali ia melaksanakan shalat, baik shalat fardlu maupun shalat sunnah. Ruhnya mengajaknya pindah dari alam materi menuju alam yang tinggi, jernih, suci dan bersih. Di situlah sumber kebahagiaan dan ketenteraman.

Hadirin! Shalat adalah garis pemisah antara kufur dan iman. Menegakkan Shalat adalah bentuk keimanan dan meninggalkannya merupakan kekufuran. Maka, siapa yang menjaga Shalatnya, hatinya akan bercahaya, demikian pula wajah dan kuburnya, dan saat dikumpulkan di Mahsyar, ia juga akan mendapat keselamatan pada hari kiamat. Dia akan dikumpulkan bersama orang-orang yang telah diberi kenikmatan oleh Allah Ta’ala yaitu para nabi, shiddîqînsyuhadâ` dan shâlihîn. Adapun sebaliknya, siapa yang tidak menjaga Shalatnya, dia tidak akan mendapatkan cahaya dan keselamatan pada hari kiamat, dan di akhirat kelak dia akan dikumpulkan bersama Fir`aun, Hâmân, Qârûn, dan Ubai bin Khalâf.

Ketahuilah, sesungguhnya Shalat adalah tiang agama. Karena itu, tidak akan tegak agama seseorang yang meninggalkan Shalat dan sejatinya ia bukan bagian dari agama ini.

Posisi shalat dalam Islam seperti posisi kepala bagi tubuh. Bila manusia tidak bisa hidup tanpa kepala, begitu pula agama tidak hidup tanpa shalat. Nash-nash syariat yang menerangkan hal itu sangat banyak. Maka sungguh prihatin di antara orang-orang yang mengaku Islam masih ada orang-orang yang hidup di tengah-tengah kaum muslimin, tetapi meremehkan dan menyepelekan shalat. Bahkan terkadang lebih parah dari itu, meremehkan dan dijadikan guyonan.

Wahai, kaum Muslimin, bagaimana kita bisa menyia-nyiakan Shalat, tidak merawat, bahkan meninggalkan  padahal Shalat adalah penghubung kita dengan Allah SWT. Jika kita tidak memiliki penghubung antara kita dengan Allah SWT, dimana ubûdiyah(penyembahan) kita ? Dimana wujudkecintaan kita kepada Allah Ta’ala , dan ketundukan kita kepada-Nya? Wahai kaum Muslimin, bukankah kita semua tahu bahwa amal yang pertama kali akan dihisab oleh Allah Ta’ala adalah Shalat. Jika Shalat kita baik, maka baik pula seluruh perbuatan kita. Dan jika rusak, maka rusak pula amal ibadah kita.

Hanya, shalat seperti apakah yang dapat mempererat hubungan komunikasi antara makhluk dan penciptanya? shalat seperti apakah yang dapat memberikan efek yang positif di dalam diri pelakunya, sehingga dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, dan bisa membantunya dalam urusan agama dan dunianya; mendorongnya untuk melaksanakan kewajiban dan menjauhi hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan? apakah itu shalat jasmani tanpa ruh, badan tanpa hati, gerakan tanpa kekhusyukan, bentuk tanpa esensi, kata-kata tanpa makna? Bukan! Tetapi shalat Syar’iyah nabawiyah yang dilaksanakan menurut rambu-rambu Alquran dan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadirin yang rajin shalat, ketahuilah bahwa shalat yang diterima oleh Allah harus memenuhi syarat, rukun, wajib, dan adab tertentu. Di dalam Musnad Ahmad disebutkan:

Orang yang paling buruk pencuriannya ialah orang yang mencuri sebagian dari shalatnya.’’

Yang dimaksud dengan mencuri di dalam shalat ialah tidak menyempurnakan rukuknya, sujudnya dan khusyuknya.

Hadirin yang rajin shalat. Bergembiralah bila Allah melapangkan dada hadirin untuk melaksanakan kewajiban yang agung ini. Selamat atas balasan dan anugerah dari Allah, baik di dunia maupun di Akhirat karena telah melaksanakan kewajiban agama yang agung ini. Dan bagi hadirin yang belum rajin sholat, masih terasa berat, dan baru menjalankan setengah-setengah, mari bulatkan tekad utnuk melaksankan perintah Allah ini dengan total, tanpa ragu, mempertanyakan bahkan sinis yang akan buang2 waktu, karena perintah ini demikian jelasnya. Mumpung kita masih sehat, cukup waktu dan tenaga, jangan sampai menyesal jika ajal meradang ternyata kita belum rajin sholat.

Sesungguhnya kehancuran dan kemunduran peradaban yang terjadi di berbagai belahan bumi Muslim, berpangkal pada kejatuhan anak-anaknya di lembah pelanggaran hukum dan keengganan melaksanakan kewajiban yang paling wajib, yaitu shalat.

Maka tanggung jawab kita sebagai muslim terhadap shalat sungguh besar. Baik terhadap dirinya sendiri dalam bentuk perhatian yang sungguh-sungguh, maupun terhadap orang lain, seperti kenalan, kerabat, anak dan tetangga dalam bentuk penyampaian perintah dan nasihat kepada mereka tentang masalah yang sangat penting ini. Para imam masjid juga memiliki peran yang besar, karena mereka memikul tugas yang paling besar. Maka mereka harus melaksanakan tugas itu dengan cara memberikan perhatian yang serius terhadap shalat dan memberikan pemahaman tentang hukum-hukum dan hikmahnya.

Tinggal satu catatan penting dalam masalah ini, yaitu masalah-masalah yang longgar dan menjadi obyek perbedaan pendapat di antara para ulama, terutama masalah-masalah yang disunnahkan atau dianjurkan. Hal itu sama sekali tidak patut menjadi pemicu perpecahan, perseteruan, dan permusuhan di antara sesama muslim. Juga tidak patut disikapi dengan keras atau ditolak dengan tegas. Hal ini tidak bertentangan dengan komitmen terhadap sunah.

** Hanya Allahlah yang pantas kita minta untuk memperbaiki kondisi umat Islam di mana saja, memberi mereka pemahaman yang benar tentang agamanya. Dan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang teguh menjaga syi’ar-syi’ar agamanya, menghormatinya, dan menegakkan tiangnya dengan sebaik-baiknya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،

فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبارٍكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءُ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَعَوَاتِ وَيَآ قَاضِيَ الحَاجَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Yogyakarta, 9 Januari 2015

Disarikan dari http://khotbahjumat.com/batas-antara-kita-dan-mereka-adalah-shalat/