Monthly Archives: February 2015

tukang sayur

TUKANG SAYUR

Menjelang Asyar seorang tukang berdiri di beranda rumah saya.

“Mari diskusi soal ketuhanan.” katanya.

Melihat kemunculannya yang misterius saya yakin orang ini sebangsa malaikat, wali atau setidaknya sufi yang menyamar.

“Saya tidak suka diskusi. Lebih-lebih masalah keyakinan”, jawab saya.

“Mengapa?”

“Karena saya ingin memiliki keyakinan dan keimanan. Diskusi hanyalah semacam senam akal yang justru akan membuat keyakinan saya tumpul, menjadi ragu, dan menjadikan malas sholat”.

Meluncurlah nasihatnya.

“Allah memberimu akal fikiran untuk dimanfaatkan. Kamu diangkat sebagai khalifah Allah, menjadi wakil-Nya, karena akalmu. Binatang lain tidak diberi kedudukan setinggi ini. Afala yaqiluun (apakah kau tak berakal?). Afalaa yatafakkaruun (apakah kau tak berpikir?). Bertebaran ayat Quran menegaskan hal ini. Mengoptimalkan akal adalah bentuk syukur. Syukur itu jalan mendekat  Tuhan dan mengimaniNya. Maka keyakinan Tauhidmu itu justru harus kau pupuk dengan memanfaatkan akalmu”.

Bicaranya padat, tegas dan sarat  hikmah. Tipikal orang pintar, orang alim. Saya pun tersadar, tunduk hormat, dan mempersilakan dia duduk.

Kami lalu tenggelam diskusi. Panjang-lebar-menukik-mendalam-berbelit-berbuih. Bukan saja perihal tuhan — theisme, atheisme, dalil ada-Nya, dalil tidak ada-Nya, Friedrich Nietzsche, Richard Dawkin, Sam Harris, Christopher Hitchens, Daniel Dennett, Theologi, Ilmu Kalam, dari Asyary, Jabary, Mutazily, Mullasadra, hingga Syahrawardi– tetapi juga hal lain seputar takdir, nasib, kebebasan dan tanggungjawab, pahala, dosa, kenabian, kiamat, pembangkitan, surga-neraka, dan kehidupan pasca mati. Pendek kata perkara keilmuan, sophisticated, dan –ini yg penting– non-duniawi.

Begitu seru kami berdiskusi hingga keras suara azan Asyar dari loudspeaker masjid depan rumah nyaris tidak terdengar. Terlebih kami menaikkan volume bicara untuk menandingi muazin. Habis sudah.

Sesekali saya melontarkan pernyataan nakal  yanag merangsang pikiran dan memicu adrenalin. Tamu saya senang. Dipujinya saya. Dia bilang saya pintar, kritis, berwawasan luas, khas ilmuwan, dan berpotensi menjadi ulama pewaris nabi. Hati saya berbunga.

Tetangga saya, pensiunan tentara yang menekuni agrobisnis, lewat. Beliau teman di masjid.

“Jamaah, Pak” serunya tersenyum.

Sang Sufi tamu saya kurang senang.

“Riya, Ujub”, gumamnya.

“Betul. Sok religius”. Jawab saya membatin.

Kami melanjutkan diskusi.

Kali ini temanya mengkritisi keadaan: pemerintah dan DPR yang tidak becus, sistem pendidikan buruk, generasi muda dekaden, berita dan acara tivi tidak mendidik, dan sebagainya.

Tukang sayur ini pintar nian. Analisisnya cerdas-sinis seperti cerdik cendekia. Seperti para pengamat –orang yang kerjanya meng-amat-kan, mendramatisir, hal biasa jadi luar biasa—di televisi, yang karenanya teman saya menaruh tulisan ‘Stupid Box’ di atasnya.

Kagum dan hormat saya makin bertambah, menerbitkan perasaan sungkan. Orang-orang berangkat ke masjid menjadi tidak menarik. Mereka berlalu seperti bayangan.

“Ini moment langka. Bolehlah sesekali tidak berjamaah ke masjid”, begitu saya menenangkan bagian diri yang sejak tadi gelisah.

Mendadak tamu saya berdiri, mendekat, dan berbisik.

“Perbincangan kita ini adalah majelis ilmu. Ratusan malaikat beramai mendoakan kita ke hadirat Allah SWT”.

Kembali hati saya berbunga bangga. Kali ini karena merasa terlibat perkara penting dan mulia.

Kami melanjutkan diskusi. Makin tenggelam. Tiba-tiba azan magrib bergema.

“Ya Allah, belum shalat asyar!”.

Tamu saya yang malaikat atau wali diam. Cuek. Saya geram.

“Berbuih kita bicara masalah Tuhan, agama, sampai lupa sholat. Bagaimana ini?!”

Bukannya menyesal, tamu saya –yg terus menunduk sejak azan tadi– malah terkekeh. Dengan pundak bergoyang menahan tawa, pelan dia mendongak. Saya terkejut mendapati wajah sufinya tidak lagi di sana. Matanya menyala merah. Kepalanya tumbuh tanduk.

Ketika iqomat melengking tamu saya lenyap.

Setan itu pergi.

Advertisements