SEPENGGAL KISAH FILM

Capture

Maka, jadikanlah Lukman sebagai suri tauladan keluarga kita.

Dua hal diajarkan Lukman kepada anaknya. Bukan harta dan kekuasaan yang menjadi tujuan hampir setiap orang saat ini. Tetapi di atas itu, ia tanamkan Tauhid dan ia ajarkan Akhlak.

Bapak Ibu sekalian, marilah kita jaga bersama. Jangan sampai diri kita, anak kita, keturunan kita, menyekutukan Allah dan menukarnya dengan kesenangan dunia.

***

Dialog  film tersebut saya ucapkan pada adegan pengajian keluarga di sebuah rumah. Saya memerankan seorang ustad, yang salah satu jamaah saya, Pak Fadoli (ketua RW) nantinya dirundung masalah karena anak lelakinya akan menikahi seorang penari Padang beragama Kristen yang ia kenal di Jakarta.

Yang hendak saya ceritakan bukanlah kisah filmnya, tetapi seorang ibu yang menjadi figuran jamaah pengajian. Mulanya saya tidak memperhatikan, sampai ketika adegan diulang tiga kali, saya melihat ibu itu terisak. Susah payah ia menahannya karena memang tidak ada adegan tangis di sekenarionya. Scene ini sendiri akan tampil di awal film. Tetapi demi teknis, pengambilan gambarnya dilakukan di akhir rangkaian syuting 5 hari di kotagede yang sebagian besar berlokasi di rumah tua khas kota bekas kerajaan Mataram itu.

Jam tiga pagi syuting berakhir. Para figuran yang sudah di lokasi sejak siang  berhambur pulang. Pemain menunggu honor, sutradara, asistennya, aktor dan artis kembali ke hotel, kru dan kamereman bekerja kilat memberesi peralatan karena besok pagi mereka harus bergegas ke Jakarta. Saya sendiri memasukkan properti (begitu istilahnya, Properti. Setahuku property ki rumah je): beberapa helai baju koko, peci, sajadah, sarung dan peci. Kemaren bagian kostum menyuruh saya memakai tasbih, saya jawab tidak mbak. Itu ustad lebay film 70an.

Tidak sampai 20 menit keadaan di rumah tua itu kembali gelap seperti semula. Ini rumah besar tahun 1800, milik orang kaya waktu itu. Ratusan tahun kemudian setelah dihuni beberapa generasi yang tidak cukup merawat, rumah berangsur muram. Jika siang cukup terang saya bisa mengamati bekas kejayaan di sana. Pendapa luas, beranda panjang, lantai keramik bermozaik, perabotan dari Eropa, jam besar kuno, lampu gantung porselin, meja kursi jati tua, dan deretan kamar kosong mirip bekas kastil. Tapi semua kusam. Hanya bagian belakang rumah yang nampaknya dihuni, itupun bangunan baru yang terkesan menempel.

Malam itu, ketika shooting berakhir, semua orang mulai berlalu, dan penerangan temaram menggantikan benderang lampu shoting, keadaan rumah benar-benar menampakkan wajah aslinya. Saya tercekam seolah terjebak di sebuah tempat ratusan tahun silam. Beberapa orang yang tersisa di pendapa rumah terlihat remang seperti bayangan purba.

Tiba-tiba dari kegelapan sebuah sosok tertatih mendekat.

‘Pak Ustad, bolehkah saya bertanya sesuatu?‘

3 hari di lokasi syuting, semua orang memanggil saya begitu; Pak Ustad, terlebih warga setempat yang menjadi figuran. Mereka memperlakukan saya seorang ustad. Menaruh hormat, santun, dan kadang bertanya soal agama. Di antara warga Kotagede yang terkenal religius ini saya yang sebenarnya hanya mengandung ustad ini sering kikuk jadinya.

‘Ya, Bu’. Ketika lampu gantung kecil menyinari wajahnya, saya terperanjat. Ini ibu yang menangis tadi. Wajahnya diliputi kesedihan, dan menjadi makin sedih oleh redup lampu dan background rumahnya yang gelap.

‘IslamKTP itu apa Pak Ustad’

Saya mengira dia bercanda dengan menyebut judul sinetron. Tapi muka pedihnya segera meralat kesan saya.

‘Islam KTP itu mengaku Islam tapi tidak menjalankan, Bu’

‘Tidak sholat, tidak puasa ya Pak?’ Saya mengiyakan sembari meraba arah pembicaraan.

‘Kalau sejak kecilnya dididik Kristen, Pak? Tinggal di lingkungan Kristen, orang tua Kristen, bagaimana?‘

‘Bagaiamana pripun, Ibu?‘

‘Namanya tetap Islam KTP ya, Pak Ustad? Amalnya tidak diterima Tuhan? Kalau mati bagaimana?‘

‘Orang Islam itu sholat Bu. Kalau tidak sholat bukan muslim namanya. Kalau mati tidak boleh disholati’

Saya hampir melanjutkan masuk neraka, disiksa hebat, apalagi kalau ia musyrik dosanya tak terampuni, penghuni abadi neraka  Jahanam, dan seterusnya. Tetapi buru-buru saya urungkan karena saya lihat beliau tertunduk dalam.

‘Te-ta-pi, Pak Us-tad…’, suara terbata-bata. Mendung kepedihan menyergap. Mukanya kembali tertunduk. Saya perhatikan tubuhnya menggigil lembut.

‘Bagaimana kalau di akhir hayatnya orang itu pernah solat, Pak…’

Saya mulai paham situasinya. Ibu ini memerlukan dukungan. Sepertinya situasi yang traumatis pernah melanda hidupnya. Lalu saya pegang pundaknya dan menasihatinya selembut mungkin. Kalaupun ini akting, saya total melakukannya.

‘Tidak ada orang yang tahu akhir sebuah kematin, Bu. Orang yang kita lihat sehari-hari tidak agamis, tidak menjalankan agama, bisa jadi pada akhir hayatnya mendapatkan hidayah. Ia khusnul khatimah. Dan sebaliknya, mereka yang nampak rajin beribadah, tetapi menjelang ajal malah syuul khatimah, akhir yang buruk. Misalnya dia tidak sabar diberi sakit, mengumpat, menyalahkan Allah, lalu meninggal’.

‘Begitu, Ya Pak Ustad..’ matanya menerawang.

‘Kita doakan saja Bu. Orang-orang terkasih kita mendapatkan khusnul khatimah’.

Beliau diam, masih menerawang. Kali ini ada gurat kelegaan di wajahnya. Sejenak tidak ada lagi pembicaraan, saya pun pamit.

***

Saya menuju parkiran di halaman masjid, 200 meter dari lokasi syuting. Ketika hendak masuk mobil terlihat dua orang duduk-dudk di teras masjid. Mereka warga yang menjadi figuran, sepertinya tengah menunggu subuh. Tidak tahan dengan pertanyaan yang terus berkecamuk sejak tadi, saya mendekat dan bertanya siapa ibu tadi.

Jawabnya sungguh mengejutkan.

Beliau pemilik rumah. Suaminya meninggal beberapa hari lalu. Dulu pernikahannya ditentang orang tuanya karena masalah agama.

Di dalam mobil menuju pulang saya membayangkan selama sekian hari si Ibu menyaksikan drama hidupnya diputar kembali didepan mata. Tokoh-tokoh di film itu mengulang kejadian puluhan silam, bukan di tempat lain tapi justru tepat di rumahnya, tempat yang sama dengan kejadian yang dia alami. Ada adegan ayah yang dengan keras menuduh anak menentang tradisi keluarga, ibu yang berusaha bijak menengahi ayah dan anak, dan anak yang menentang demi cinta. Hanya bedanya, kalau film itu tak berending, apalah happy ending –setidaknya di rumah itu—si Ibu berlanjut hingga di kematian. Saya jadi faham arti tangisnya saat adegan pengajian itu.

Pelan saya buka jendela mobil. Angin fajar yang sejuk menyelinap masuk beradu dengan samar azan subuh di kejauhan.

Ya Allah lindungi saya dan orang-orang terkasih saya.

Advertisements