BAROKAH

Kyai Abdurrahman (alm) atau Syekh Dur adalah menantu bungsu Romo Kyai Muslih Abdurrahman Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak yang masyhur sebagai tabib waskita. Syekh Dur bukan saja dianggap bisa menyembuhkan beraneka penyakit tetapi juga melancarkan perniagaan, perjodohan, dan keberuntungan hidup lain. Metode dan penampilan beliau yang khas dan unik melengkapi ketenarannya dan menorehkan kenangan tersendiri.

Saya sempat mengalami masa pra-ketabibannya, masa ketika beliau mengaji kitab sepuh seperti al-Hikam Ibn Atho’illah al-Askandary di usia muda rumah tangganya. Saya diuntungkan bukan saja ikut mengaji yang tidak lagi dilakukan pasca ketabiban, tetapi juga membantu di warung kecil miliknya dari menyiapkan dagangan, melayani pembeli, hingga membuat es lilin untuk dijajakan. Kios kecil depan rumahnya nanti berubah menjadi kamar khusus munajat beliau.

Awal saya menginjakkan kaki di Pesantren Futuhiyyah pada tahun 1980 aroma ketenaran Syekh Dur sudah tertebar. Kerap kali saya dengar cerita ajaib bekas santri Demak yang memikat hati Kyai Muslih hingga mengambilnya menjadi menantu ini.

“Dia Laduni”, kata teman ke teman.

Itu awal pertama kali saya mendengar ilmu Laduni. Pengetahuan luas bak samudra atas apa saja yang diperoleh tanpa harus belajar, yang entah bagaimana si empunya tiba-tiba menguasai ilmu itu secara luar biasa.

Saya suka membayangkan betapa menyenangkannya berilmu Laduni. Tidur terus, tidak pernah belajar, begitu bangun pintar tiada tara.

“Tapi itu harus melalui tirakat yang tidak ringan. Beragam amalan berbilang ribuan zikir” teman lain menjelaskan.

Saya suka menebak siapa di antara sekian ratus santri menjadi calon penerima Laduni. Karena disebut soal tirakat berat tadi, pengamatan saya langsung jatuh pada santri kurus, ngantukan, berwajah gelisah. Kepada pribadi prihatin begini saya mudah menaruh hormat. Lebih-lebih kalau bentuknya pendiam, berkalung sajadah, menguntai tasbih, dan menggemari zikir. Pasti sebentar lagi akan datang Laduninya. Ternyata tidak semua santri model begitu ahli tirakat.

Syekh Dur dikenal kuat tirakat dan zikirnya. Namun ali-alih kurus pucat, perawakan Syekh Dur kekar, raut muka mystical, dan matanya menyimpan misteri. Dengan gaya bicara efektif, suara rendah, dan kehadiran memancarkan energi, serta bumbu cerita heboh yang melingkupinya, sosok Syekh Dur mewujud menjadi pribadi luar biasa. Padanannya baru saya temukan sekian tahun kemudian pada tokoh Gandalf dalam film Lord of The Rings.

“Abdikan sepenuhnya kesetiaanmu pada Kyai. Seraplah Barokah sebanyak-banyaknya”.

Itu pesan Bapak nyaris setiap hari menjelang keberangkatan saya menjelajah rimba pesantren. Bersyukur Allah menanam  semacam filter–processing dalam diri saya sehingga nasihat bertubi-tubi tidak masuk akal itu tidak menancap di memori menjadi format kultus. Atau membentuk image sakti seorang Kyai yang karenanya saya perlu berguru kepadanya agar bisa memecah batu atau memantikkan api dari jarak jauh. Entah bagaimana, saya justru mengartikannya sebagai pelayanan dan persembahan penuh hormat kepada Kyai dan guru yang akan memperoleh balasan Barokah berupa kemudahan, kebaikan, dan keberuntungan. Kemudian kalau Allah berkenan, saya akan diganjar ilmu manfaat seperti para Kyai yang saya khadimi.

Sampai hari ini saya kerap berpikir bagaimana transfer pengetahuan ala kadarnya dari Bapak bisa demikian positif dan efektif. Belum tentu berbagai metode pembelajaran yang saya cari ke mana-mana dapat melakukan hal sama, tak jarang malah sering lebih buruk atau meleset. Ingin bertanya ‘apa yang engkau lakukan di balik nasihatmu itu, Bapak?’, selain malu Bapak paling juga tidak menjelaskan. Malah menyuruh saya mencarinya.

Mungkin Bapak puasa dulu sebelum memberikan nasihat, seperti para ilmuwan era Muawiyah dan Abasiyah sebelum menulis kitab. Atau mungkin salat sunah dua rakaat dan berdoa agar Allah sendiri yang mengilhamkan nasihat. Atau sebagai petani kampung yang jauh dari kemajuan sekolah Bapak serah saja kepada Gusti Allah, bersandar total, lalu dengan serta merta keluar nasihat. Sepertinya yang terakhir yang cocok.

“Barokah Kyai ada di mana-mana, termasuk di sisa air minumnya. Minumlah selagi bisa”.

Pikiranku –bocah tamat SD– belum bisa menerjemahkan nasihat ganjil ini menjadi misalnya, ajaran untuk selalu bersikap tawaduk, rendah hati dan menaruh hormat. Yang ada di kepala saya justru setengah gelas teh manis gratis yang tidak habis diminum Kyai. Itu jauh lebih konkret daripada Barokah, tawaduk, hormat, dan sikap mulia lain. Dasar bocah.

“Untuk itu kamu harus selalu dekat Kyai”, lanjutnya.

Maka, menjadi khadim Kyai di dalem adalah pilihan utama yang paling bisa Bapak sarankan. Dalem adalah kediaman Kyai dan khadim pelayan Kyai.

Bukan Bapak saja yang memberikan nasihat seperti itu. Sebagian besar santri memperoleh ajaran serupa dari orang tuanya. Saya mengira bekal non-material begini setua usia pesantren di Nusantara.

Demikianlah. Maka begitu saya masuk pesantren segera kuinventarisi Kyai mana yang bisa kulayani: mengadimkan diri memburu Barokah. Benar dugaan saya, para santri rupanya diberi bekali yang sama oleh orang tuanya. Akibatnya semua dalem Kyai di Futuhiyyah penuh. Dalem Kyai Muslih ada Kang Ichwan dan kakak-beradik Kang Sholihin. Dalem Kyai Mad sudah ada Kang Shodiq, Kang Thoifur, dan banyak lagi santri lain berebut Barokah. Pak (Kyai) Wan sudah punya Kang Asif dan Pak Qodirun. Tempat Kyai Muhibbin yang mengasuh pesantren putri tidak menerima khadim pria. Sayang ya. Tetapi beberapa tahun kemudian, ketika saya sudah kuliah di Jogja dan sesekali ke Futuhiyyah untuk sowan para Kyai, samar kudengar sahabat baikku Kang Khafid jadi khadim di sana. E alah. Enak men. Barokallaahu lak, Kang.

Habis sudah. ‘Pintu Barokah’ tertutup. Saya berduka. Pada saat genting itulah cerita hebat Syekh Dur, menantu baru Kyai Muslih, mulai kudengar.

Dari sini keberuntungan saya dimulai.

 

 

 

 

Advertisements