Category Archives: Coretan

PECI

Minggu pagi tahun 1987.

30 tahun yang lalu.

Hari itu saya akan sowan Kyai Mad (Kyai Ahmad Muthohar), setelah hampir 2 tahun tidak ke Futuhiyyah sejak kuliah. Saya sengaja berangkat subuh dari Jogja supaya cukup waktu di Mranggen, kemudian sungkem bapak ibu di kampung.

Hari masih pagi ketika saya sampai Mranggen. Kota santri yang penuh kenangan dan pelajaran ini saat itu masih nyaman. Pasar pagi yang lengang, kicau burung samar-samar, pepohonan rindang, dan akhirnya sambutan santri tidur di pondok sisa dari tahajudnya semalam. Sungguh suasana surgawi.

Saya bergegas menuju nDalem.

Assalamualaikum. Suara lirih saya mengetuk pintu. Kang Jabal,  khadim nDalem, mempersilakan masuk dan menyuruh menunggu.

Saya duduk di karpet hijau di ruang tamu yang tidak berubah sejak saya masuk Futuhiyyah 5 tahun sebelumnya. Dua  gothakan di barat nDalem masih utuh, juga jendela depan yang menghadap kantor pengurus, yang biasa digunakan Kyai nderes selepas subuh.

Sebentar kemudian Kyai keluar. Saya menghambur menyambut dan menciumi tangannya.

“Ada berkah di tangan Kyai,”  begitu nasihat Ayah. Mencium tangan Kyai karenanya selalu kumaknai menyerap berbagai kualitas keluhuran seorang ulama, seperti ilmu, ikhlas, dan kedekatannya pada Tuhan. Satu hal yang pada acara  Religion and Society: a Dialog  di AS harus saya luruskan ketika seorang teman kepada publik California menyebut cium tangan Kyai ini adalah kultus.

“Tingkat piro kowe?” tanya Kyai setelah duduk.

“Kalih, Yi”

“Kowe wis rong tahun kok yo?”

 

Saya mengangguk. Masih teringat jelas dua tahun lalu, di ruang tamu ini pula saya ‘ngeyel’ memohon-mohon Kyai merestui saya masuk UGM. Awalnya Kyai menolak dan menasihati begini.

“Ilmu iku ono loro. Ilmu ndonya lan ilmu akhirat. Ilmu ndonya kanggone sedilok, paling tekan pensiun dadi pegawai. Nak ilmu akhirat saklawase. Bungahe podo. Habibi nemu carane gawe pesawat kae bungahe podo karo santri nemu tafsire al-Quran. Mlebu UGM kui golek ilmu ndunyo, tapi nak kowe neruske mondok kui ilmu akhirat.”

“Inggih Kyai. Tapi kulo pingin saestu mlebet UGM”. Yai melanjutkna nasihatnya dan saya selalu menutupnya ingin masuk UGM. Berulang-ulang begitu.

Kyai diam, tidak berkenan. Tamu datang pergi silih berganti dan saya tetap bertahan duduk di situ. ‘Pokoke nak rung diijini, aku ra meh ngalih’, batinku. Melihat tekadku akhirnya Kyai pun iba. Kyai kemudian bukan saja memberiku ijin tetapi juga mendoakan. Sebuah doa khusus.

Singkat cerita saya diterima di UGM. Merasa shock dengan kehidupan anak kost dan kampus umum yang jauh beda dengan kehidupan pesantren, saya lalu ndobel kuliah di UIN, yang menurutku lingkungannya mirip pesantren. Kuliah rangkap tidak masalah karena –ini baru kusadari belakangan—sudah terlatih di Futuhiyyah ndobel SMP dan Diniyyah sore, ditambah mengaji al-Quran di Kyai Muhibbin, praktis dari pagi hingga malam. Atas berkat rahmat Allah, doa ortu dan guru, setelah lima tahun saya lulus UGM dan kemudian mengajar di sana.

Rangkaian nasib kemudian mengantarkan saya melanjutkan studi di sini, di Eropa. Hidup di lingkungan budaya  yang berbeda bumi-langit dengan di tanah air membuat saya merasa terlempar ke dunia antah-berantah, asing dan berbahaya. Jangan-jangan dulu Kyai melarangku kuliah ada benarnya, jangan-jangan jauh-jauh saya mencari ilmu ini tidak manfaat. Naudzubillah. Kalau sudah susah begini obatnya ingat kampung halaman dan pesantren:  tempat ayah ibu dan para Kyai berada. Saya bayangkan mereka merasakan batinku, lalu mendoakanku  tenang dan selamat. Matur nuwun, Gusti.

“Jurusanmu apa”

“Filsafat, Kyai”

“Apa kuwi”

“Falsafah”

“Haiya apa?”

Apa ya. Saya bingung menjawab. Maklum mahasiswa baru

 

“Sing disinauni apa?”

“Niku dibagi 4, Yi”

“Apa wae”

“Ingkang pertama Filsafat Barat. Filsafate tiang-tiang Eropa kalih Amerika, kados Prancis, Inggris, Jerman. Nggih kalih Kristen-kristen ngaten.”

Yang kristen-kristen itu saya mengarang, karena filsafat tidak mempelajari agama-agama. Itu saya ucapkan supaya tampak saya belajar agama. Biar Kyai senang. Tapi ini nanti malah jadi petaka.

“Terus apa meneh?”

“Nomer kalih Filsafat Timur, Yi. Niku bongsone filsafat China, India, Jepang”. Lagi-lagi kutambahkan Iran, Irak, Yaman, Qatar. Negara-negara Islam di Timur Tengah itu saya ambil Timurnya supaya masuk Filsafat Timur. Padahal Filsafat tidak mempelajari negara-negara, apalagi secara khusus negara Islam. Jadi itu hanya untuk mengesankan Kyai kalau saya belajar Islam.

“Nomer tiga Filsafat Agama, nomer sekawan filsafat Nusantara”, lalu saya uraikan sekadarnya.

Di luar dugaan, tiba-tiba Kyai bertanya: “Nak bedane Kristen karo Katolik apa?”

Inilah yang saya maksud petaka.

Saya tertatih mengingat ciri keduanya. Beruntung saya agak mengerti, lalu saya jelaskan sebisanya. Saya ceritakan Katolik itu pemimpinnya bernama Paus, tinggal di Vatikan, Roma, sedangkan Kristen tidak mengakui dan diakui kepausan. Gereja Katolik diimami seorang pastor atau romo yang tidak menikah, sedangkan gereja Kristen oleh pendeta dan boleh berkeluarga. Katolik setuju hidup selibat maka muncullah biara, Kristen tidak.

Gereja Katolik terkesan klasik dan megah seperti gereja berkerucut di Eropa, lonceng besar, paduan suara megah dengan iringan orgel (orgen raksasa dengan pipa-pipa angin besar untuk mengeluarkan bunyinya), sementara gereja Kristen bangunan biasa bahkan kadang rumah, nyanyi ya rame-rame tidak koor-kooran. Salib Katolik ada patung Yesus dan tulisan INRI, salib Kristen Protestan polosan.

Setelah tinggal di Jerman ini saya sadar ternyata gereja yang dipakai Martin Luther menggantungkan surat protesnya tidak jauh dari rumah saya. Martin Luther, pencetus Kristen Protestan, satu kecamatan dengan saya! Haha. Apa semua ini karena doa Kyai waktu ijin kuliah itu ya? Saya tidak yakin, karena di akhir penjelasan saya nanti, Kyai menutupnya dengan sangat mengejutkan

Kyai  serius menyimak. Saya semakin bersemangat.

Nama-nama sekolah Katolik bernuansa klasik, berbau Eropa atau latin, seperti Stella Duce, De Brito, sedangkan Kristen kejawa-jawaan, misalnya duta wacana, satya wacana. Katolik mengenal baptis, dengan menambahkan nama baptis di depan aslinya, sehingga nama-namanya keren seperti Margaretha Sukiyem, Alexander Tukino, Bernaditus Suwardi dan lain-lain.

“Cukup!”, seru Kyai.

Saya menghentikan bicara dengan agak terkejut. Dan makin kaget oleh kalimat berikutnya.

‘”Ilmu kafir kok disinaoni”

Dharr!!! Ruangan nDalem berputar thuing-thuing. Karpet hijaunya berpendar-pendar manjadi jingga. Ucapan Kyai menghujam ke sungsum, melolos tulang-tulang. Saya tertunduk lunglai.

Tiba-tiba dari relung dalam sana terdengar suara samar. “Dengar. Dengarlah apa pun kata Kyai. Bahkan duka atau marah Kyai. Tansaya didukani, tansaya apik. Semakin dimarahi semakin baik. Iku tanda kowe ditresnani Kyai.” Suaranya semakin jelas membuat saya tegar dan terhibur.

Itu adalah nasihat Ayah. Nasihat ganjil Ayah sering menolong saat genting di banyak kehidupan. Sampai sekarang, mengingat nasihat Beliau dan Ibu menjadi kesenangan tersendiri. Bahkan mendatangkan energi pendorong. Pada awal masa kuliah dulu –terbawa gaya sok rasional orang kuliahan yang ternyata naif– saya sering mendebat nasihat Ayah. Tentu saja Beliau tak berkutik. Bodohnya saya waktu itu. Astagfirulloh. Saya sangat menyesal, dan sampai sekarang berjanji akan mengikuti apa pun nasihatnya. Bahkan yang aneh ganjil sekalipun. Pengalaman saya menunjukkan semakin ganjil semakin besar hikmahnya.

Demikianlah. Maka terhadap ngendikan Kyai di atas saya menerima dengan sukacita. Kyai sangat mencintai saya, begitu hatiku. Beliau khawatir saya terjebak pada ilmu yang tidak bermanfaat. Kata kafir itu bukan seperti yang dipakai para mutakalimin era Muawiyah atau muslim picik yang mengkafirkan saudaranya. Kata kafir berarti  pula saya tidak perlu terlalu kagum pada Aristoteles, Descartes, Heidegger, Hegel, Leibniz, Derrida, Imanuel Kant, Nietzsche, dan filsuf-filsuf lain.

Tidak ada ngendikan lagi. Kyai duduk terdiam. Bukan marah. Saya berharap beliau hanya prihatin. Saya pun pamit. Seperti biasa, saya bilang ‘Kyai nyuwun doa kalih ridhonipun‘, lalu menunggu didoakan. Doa khusus untuk saya. Barulah setelah itu saya pamit dengan mencium lama tangan beliau. Ciuman yang dalam. Assalamualaikum. Saya berlalu.

Saya kira cerita sudah selesai. Ternyata belum.

(Bersambung…)