Monthly Archives: August 2015

BARANG

“Jangan membeli barang Jerman adalah pesan minggu ini. Bukan karena barangnya tidak berkualitas tetapi karena tidak mudah membuangnya. Artinya milikilah dengan bijak.

Rumah kontrakan yang kami sewa beberapa tahun lalu kosong. Kemudian kami isi sedikit demi sedikit. Sofa multi-purpose yang bisa jadi tempat tidur, meja computer, meja kursi makan, dan mesin cuci dari toko bekas Uwe’s Trödel- & Gebrauchtwarenmarkt, Lößnig. Saya terkesan prejengan atau tampilan tidak mbejaji tapi luar biasa tenaga dan fungsi mesin cuci ini. Juga beratnya. Saking beratnya 3 raksasa Jerman yang nanti membeli bekas mesin cuci-bekasku ini kerepotan angkut. Dulu malah kami bawa hanya berdua dari toko ke rumah di lantai 3 tanpa lift.

Tiga buah spring bed dan kulkas dibawakan kawan dari Chemnitz, kotanya Michael Ballack, 1 jam dari kotaku. Teman lain juga memberikan kulkasnya. Dua kulkas itu lalu kutumpuk jadi satu mirip kulkas dua pintu. Nampak wah tapi kasihan.

Telivisi pemberian kawan segera kuberikan ke kawan lain karena tak berlangganan tv. 1 tape compo dan 1 tape deck masing-masing dengan pemutar CD kumenangkan dari rebutan dengan tetangga Jerman di tempat sampah kering. Berhubung tidak suka mendengarkan lagu, tape deck kubuang lagi, sedangkan tape compo, yang penuh coretan kata-kata Jerman, mungkin punya anak SMA, kubersihkan dengan tinner mengkilap lagi. Compo itu kemudian laku di ebay. Dibeli orang Jerman. Dari Jerman kembali ke Jerman.

Saya butuh monitor computer. Sebuah monitor bekas seharga 1 euro (12 ribu rupiah) saya beli dari eBay, tapi harus diambil sendiri. Kebetulan tempatnya se-kota tidak jauh dari rumah. Ketika sampai alamat, pemiliknya bertanya ‘mana mobilmu?’. Ternyata monitornya buesar sekalii sampai tidak bisa masuk trem. Gak jadi. Saya lalu beli monitor flat 21 inci, sekalian sound blaster.

Seminggu setelah  pindah rumah, profesor istri yang baik hati mengirim lemari pakaian, rak buku, tempat tidur, buffet, lemari dapur, kursi belajar, lampu hias, sekalian memasangnya. Kini rumah tampil menawan bahkan sedikit mewah. Untuk mengimbanginya kami menutup lantai kamar dengan karpet baru dari toko Domane. Ada satu karpet lagi di ruang tamu. Karpet lebih bagus, tebal dan empuk hasil ‘kreativitas’ dua teman Studkol (kelas persiapan pra universitas). Karpet ini kemudian sering dipakai pengajian dan kumpul-kumpul. Rencananya akan kupaketkan ke Jogja, dan digelar kalau kawan senasib-seperjuangan Leipzig bertandang.

Berturut-turut sejak saat itu, barangkali karena merasa nyaman tempat tinggalnya, kami mulai membeli barang lain. Lupa kalau nanti akan merepotkan. Penyedot debu, sepeda onthel, printer, computer, buku dan lukisan. Kompor induksi irit listrik, tungku grillen atau barbeque, dan peralatan tukang ringan merk Bosch. Berkait minat bakat dan ekstra kurikuler anak-anak terbeli piano, gitar listrik, gitar bolong, efek distorsi dan sound control.

Sampai di sini keadaan berjalan normal, baik-baik saja. Benda-benda itu belum mengeluarkan kutukannya. Hingga datanglah saat ketika kami harus pindah rumah.

Calon rumah baru sudah lengkap perabot dan fasilitasnya. Mau mandi panas sampai banjir bisa. Mau hidupkan setrika ditinggal ke perpus oke. Nyetel pemanas sampai sumuk silakan. Pakai kompor dari pagi hingga pagi boleh. Hanya internet dibatasi 50GB per bulan, dan agak jauh dari halte. Di pinggir hutan tapi asyik. Harga rumah lebih murah karena milik kampus. Sejak awal sebenarnya ingin di situ, tetapi sulit untuk keluarga. Dahulu teman sarankan tidak di sini tapi di rumah privat, bertetangga dengan orang Jerman, lingkungan sosial Jerman, tata cara Jerman. Katanya di asrama mahasiswa tidak enak karena tidak bisa merasakan hidup sebenarnya di Jerman karena rata-rata penghuninya ausländer atau orang asing, bukan Jerman. Tinggal di rumah privat beda sekali pengalamannya. Selain tetangga Jerman, keperluan rumah seperti listrik, tilpon, internet, air, pemanas ruangan, sampah dan sebagainya harus diurus sendiri. Begitulah kata teman. Jadilah tinggal di rumah privat. Benar juga, tinggal di sana memberikan pengalaman nyata bermasyarakat ala Jerman, menarik, rumit dan sekaligus pusing oleh berbagai aturan dan kebiasaan.

Salah satunya perkara sewa, utamanya membuang perabotan.

Di privat wohnung (rumah) yang kami sewa, kondisi rumah harus dikembalikan seperti semula sebelum sewa. Saya sewa kosongan, kembali kosongan. Tidak boleh ada barang tertinggal. Bahkan bekas paku tembok sekalipun kalau tidak ingin uang jaminan sewa dikurangi sebagai denda.

Pada titik inilah barang-barang saya satu persatu mulai mengeluarkan kutukan. Barang-barang itu dijual tidak laku, diberikan gak ada yang mau, dikirim Indo rugi, dibuang bayar.

Njur kepiyee ?